Rabu, 28 Desember 2011

askep fraktur pelvis


1. DEFINISI

Fraktur pelvis berhubungan dengan injuri arteri mayor, saluran kemih bagian bawah, uterus, testis, anorektal dinding abdomen, dan tulang belakang. Dapat menyebabkan hemoragi (pelvis dapat menahan sebanyak + 4 liter darah) dan umumnya timbul manifestasi klinis seperti hipotensi, nyeri dengan penekanan pada pelvis, perdarahan peritoneum atau saluran kemih.
Fraktur pelvis berkekuatan-tinggi merupakan cedera yang membahayakan jiwa. Perdarahan luas sehubungan dengan fraktur pelvis relatif umum namun terutama lazim dengan fraktur berkekuatan-tinggi. Kira-kira 15–30% pasien dengan cedera pelvis berkekuatan-tinggi tidak stabil secara hemodinamik, yang mungkin secara langsung dihubungkan dengan hilangnya darah dari cedera pelvis. Perdarahan merupakan penyebab utama kematian pada pasien dengan fraktur pelvis, dengan keseluruhan angka kematian antara 6-35% pada fraktur pelvis berkekuatan-tinggi rangkaian besar.

2. ETIOLOGI

  1. Trauma langsung: benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur pada tempat tersebut.
  2. Trauma tidak langsung: bilamana titik tumpul benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan.
  3. Proses penyakit: kanker dan riketsia.
  4. Compresion force: klien yang melompat dari tempat ketinggian dapat mengakibatkan fraktur kompresi tulang belakang.
  5. Muscle (otot): akibat injuri/sakit terjadi regangan otot yang kuat sehingga dapat menyebabkan fraktur (misal; elektrik shock dan tetani).




3. MANIFESTASI KLINIS
Pengkajian awal yang perlu dilakukan adalah riwayat kecelakaan sehingga luasnya trauma tumpul dapat diperkirakan. Sedangkan untuk trauma penetrasi, pengkajian yang perlu dilakukan adalah posisi masuknya dan kedalaman. Klien dapat menunjukkan trauma abdomen akut. Pada kedua tipe trauma terjadi hemoragi baik baik internal maupun eksternal. Jika terjadi rupture perineum, manifestasi peritonitis berisiko muncul,seluruh drainase abdomen perlu dikaji untuk mengetahui isi drainase tersebut.
Bilas abdomen umumnya dilakukan untuk mengkaji adanya perdarahan diseluruh abdomen yang mengalami luka, dengan cara memasukkan cairan kristaloid ke dalam rongga peritoneum diikuti dengan paracentesis (rainase isi abdomen).Catat dan dokumentasikan warna dan jumlah drainase.



4. KOMPLIKASI
1.      Komplikasi awal
a)      Shock Hipovolemik/traumatik
Fraktur (ekstrimitas, vertebra, pelvis, femur) → perdarahan
kehilangan cairan ekstrasel ke jaringan yang rusak → shock
hipovolemi.
b)      Emboli lemak
c)      Tromboemboli vena
Berhubungan dengan penurunan aktivitas/kontraksi otot/bedrest.
d)     Infeksi
Fraktur terbuka: kontaminasi infeksi sehingga perlu monitor tanda
infeksi dan terapi antibiotik.
e)      Sindrom kompartemen



2.   Komplikasi lambat
a.   Delayed union
Proses penyembuhan fraktur sangat lambat dari yang diharapkan
biasanya lebih dari 4 bulan. Proses ini berhubungan dengan proses
infeksi. Distraksi/tarikan bagian fragmen tulang.
b.   Non union
Proses penyembuhan gagal meskipun sudah diberi pengobatan. Hal ini
disebabkan oleh fibrous union atau pseudoarthrosis.
c.   Mal union
Proses penyembuhan terjadi tetapi tidak memuaskan (ada perubahan
bentuk).
d.   Nekrosis avaskuler di tulang
Karena suplai darah menurun sehingga menurunkan fungsi tulang.

5. PATOFLOW





























Daya
 









Fraktur
 









Terbuka
 








Infeksi
 

Reduksi
 










Debdridemen
 

Delayed Union
 








Debdridemen
 







Union

 

Malunion
 

 





























6. PENCEGAHAN
Pencegahan fraktur pelvis yaitu:
  1. dengan membuat lingkungan lebih aman
  2. mengajarkan kepada masyarakat secara berkesinambungan mengenai pada saat bekerja berat.

7. PENATALAKSANAAN
1. Rekognisi:
menyangkut diagnosa fraktur pada tempat kejadian kecelakaan dan kemudian di rumah sakit.
a. Riwayat kecelakaan
b. Parah tidaknya luka
c. Diskripsi kejadian oleh pasien
d. Menentukan kemungkinan tulang yang patah
e. Krepitus



2. Reduksi:
reposisi fragmen fraktur sedekat mungkin dengan letak normalnya. Reduksi terbagi menjadi dua yaitu:
a. Reduksi tertutup: untuk mensejajarkan tulang secara manual dengan traksi atau gips
b. Reduksi terbuka: dengan metode insisi dibuat dan diluruskan melalui pembedahan, biasanya melalui internal fiksasi dengan alat misalnya; pin, plat yang langsung kedalam medula tulang.

3. Retensi:
menyatakan metode-metode yang dilaksanakan untuk mempertahankan fragmen-fragmen tersebut selama penyembuhan (gips/traksi)


4. Rehabilitasi:
langsung dimulai segera dan sudah dilaksanakan bersamaan dengan pengobatan fraktur karena sering kali pengaruh cedera dan program pengobatan hasilnya kurang sempurna (latihan gerak dengan kruck).

8. PEMERIKSAAN DIAGNOSIS

1)      Pemeriksaan rontgen: menentukan lokasi/luasnya fraktur/trauma
2)      Kreatinin: trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk ginjal
3)      Hitung darah lengkap: Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multiple). Peningkatan jumlah SDP adalah respons stress normal setelah trauma.
4)      CT scan merupakan pemeriksaan diagnostic yang perlu dilakukan untuk mengkaji injuri intrra abdomen Angiografi, pielografi intravena dan pemeriksaan lain dapat dilakukan untuk mengkaji derajat trauma pada organ yangberbeda.

9. PENGKAJIAN
Asuhan keperawatan adalah bantuan, bimbingan, penyuluhan, perlindungan yang diberikan oleh seorang perawat untuk memenuhi kebutuhan pasien atau klien dengan menggunakan metode proses keperawatan. (Nasrul Efendy, 1995)
1. Pengkajian pada Pasien Fraktur
Menurut Doengoes, ME (2000) pengkajian fraktur meliputi :
  1. Aktivitas/istirahat
Tanda  : Keterbatasan/ kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin segera, fraktur itu sendiri, atau trjadi secara sekunder, dari pembengkakan jaringan, nyeri)
  1. Sirkulasi
Gejala : Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri/ansietas), atau hipotensi (kehingan darah)
  1. Neurosensori
Gejala  :   Hilang gerak/sensasi,spasme otot Kebas/kesemutan (parestesis)
Tanda : Demormitas local; angulasi abnormal, pemendakan,ratotasi,krepitasi
(bunyi berderit, spasme otot, terlihat kelemahan atau hilang fungsi).
  1. Nyeri/kenyamanan
Gejala                 :     Nyeri berat tiba-tiba pada saat cidera ( mungkin terlokalisasi pada arah jaringan/kerusakan tulang; dapat berkurang pada imobilisasi) tak ada nyeri akibat kerusakan saraf.
  1. Penyuluhan/Pembelajaran
Gejala                 :     Lingkungan cidera
Pertimbangan     :     DRG menunjukkan rerata lama dirawat : femur 7-8 hari, panggul/pelvis 6-7 hari, lain-lainya 4 hari bila memerlukan perawatan dirumah sakit.

10. DIAGNOSA

NO.
DX KEP
Tujuan
Intervensi
Rasional
1
Gangguan rasa nyaman, nyeri berhubungan dengan fraktur/trauma.

Tujuan : Kebutuhan rasa nyaman nyeri terpenuhi.

a : Pertahankan imobilisasi pada bagian yang patah dengan cara bed rest, gips,    spalek, traksi
b : Meninggikan dan melapang  bagian kaki yang fraktur
c : Evaluasi rasa nyeri, catat tempat nyeri, sifat, intensitas, dan tanda-tanda nyeri non verbal
d.  : Kolaborasi dalam pemberian analgetik

a. Mengurangi rasa nyeri dan mencegah dis lokasi tulang dan perluasan luka pada  jaringan.
b.   Meningkatkan aliran darah, mengurangi edema dan mengurangi rasa nyeri.
c.   Mempengaruhi penilaian intervensi, tingkat kegelisahan mungkin akibat dari presepsi/reaksi terhadap nyeri.
d.   Diberikan obat analgetik untuk mengurangi rasa nyeri.

2
Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka/tulang neuromuskuler.

Tujuan : ekstremitas yang rusak dapat digerakkan.

a.  : Kaji tingkat mobilitas yang bisa dilakukan pasien
b. : Anjurkan gerak aktif pada ekstremitas yang sehat
c. : Pertahankan penggunaan spalek dan elastis verban

a. : Mengetahui kemandirian pasien dalam mobilisasi
b. : Rentang gerak meningkatkan tonus atau kekuatan otot serta memperbaiki fungsi jantung dan pernafasan
c.   : Mempertahankan imobilisasi pada tulang yang patah.

3
Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan alat fiksasi invasive.

Tujuan                   : Tidak terjadi adanya infeksi

a.   Kaji tanda vital dan tanda infeksi.
b. Ganti balutan luka secara septik aseptik setiap hari
c.   Anjurkan  pasien untuk menjaga kebersihan.

a.   Mengetahui keadaan umum pasien dan dugaan adanya infeksi.
b.   Meminimalkan infeksi sekunder dari alat yang digunakan.
c.   Untuk mencegah kontaminasi adanya infeksi.

4
Cemas/ takut/ berduka
Mengatasi cemas/ takut/ berduka
Klien menerima keadaan, ekspresi,wajah tampak tenang
Beri kesempatan pada klien untuk mengekspresikan perasaannya
5
Gangguan perawatan diri
Memperbaiki cairan tubuh
Harga diri meningkat berperan aktif selama rehabilitasi
Kaji kemampuan klien perawatan diri


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terimakasih sudah berkunjung ke blog saya, silahkan tulis komentar jika ada pertanyaan.