Senin, 26 Desember 2011

askep ileus paralitik


ileus paraliik

2.1 Definisi Ileus Paralitik
            Ileus Paralitik adalah isyilah gawat abdomen atau gawat perut menggambarkan keadaan klinis akibat kegawatan di rongga perut yang biasanya timbul mendadak dengan nyeri sebagai keluhan utama. Keadaan ini memerlukan penanggulangan segera yang sering berupa tindakan bedah, misalnya pada obstruksi, perforasi, atau perdarahan massif di rongga perut maupun saluran cerna, infeksi, obstruksi atau strangulasi saluran cerna dapat menyebabkan perforasi yang mengakibatkan kontaminasi rongga perut oleh isi saluran cerna sehingga terjadilah peritonitis.

            Ileus adalah gangguan pasase isi usus yang merupakan tanda adanya obstruksi usus akut. Ileus Paralitik adalah obstruksi yang terjadi karena suplai saraf otonom mengalami paralysis dan peristaltic usus terhenti sehingga tidak mampu mendorong isi sepanjang usus. Contohnya amiloidosis, distropi otot, gangguan endokrin seperti diabetes mellitus, atau gangguan neurologist seperti penyakit Parkinson. Ileus Paralitik adalah keadaan abdomen akut berupa kembung distensi usus karena usus tidak dapat bergerak (mengalami motilitas), pasien tidak dapat buang air besar.

            Ileus (Ileus Paralitik, Ileus Adinamik) adalah suatu keadaan dimana pergerakan kontraksi normal dinding usus untuk sementara waktu berhenti.

            Dari keempat definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa ileus paralitik adalah istilah gawat abdomen atau gawat perut yang biasanya timbul mendadak dengan nyeri sebagai keluhan utama karena usus tidak dapat bergerak (mengalami motilitas) dan menyebabkan pasien tidak dapat buang air besar.

           


2.2 Etiologi
1)      Pembedahan Abdomen
2)      Trauma abdomen: Tumor yang ada dalam dinding usus meluas kelumen usus atau tumor di luar usus menyebaban tekanan pada dinding usus.
3)      Infeksi: peritonitis, appendicitis, diverticulitis
4)      Pneumonia
5)      Sepsis
6)      Serangan Jantung
7)      Ketidakseimbangan elektrolit, khususnya natrium
8)      Kelainan metabolic yang mempengaruhi fungsi otot
9)      Obat-obatan: Narkotika, Antihipertensi
10)  Mesenteric ischemia


2.3 Manifestasi Klinik

1)      Obstruksi usus halus awal biasanya berupa nyeri abdomen bagian tengah seperti kram yang cenderung bertambah berat sejalan dengan beratnya obstruksi dan bersifat hilang timbul. Pasien dapat mengeluarkan darah dan mucus, tetapi bukan materi fekal dan tidak terdapat flatus. Pada obstruksi komplet, gelombang peristaltic pada awalnya menjadi sangat keras dan akhirnya berbalik arah dan isi usus terdorong kedepan mulut. Apabila obstruksi terjadi pada ileum maka muntah fekal dapat terjadi. Semakin kebawah obstruksi di area gastrointestinal yang terjadi, semakin jelas adanya distensi abdomen. Jika berlanjut terus dan tidak diatasi maka akan terjadi syok hipovolemia akibat dehdrasi dan kehilangan volume plasma.
2)      Obstruksi usus besar nyeri perut yang bersifat kolik dalam kualitas yang sama dengan obstruksi pada usus halus tetapi intensitasnya jauh lebih rendah. Muntah muncul terakhir terutama bila katup ileosekal kompeten. Pada pasien dengan obstruksi di sigmoid dan rectum, konstipasi dapat menjadi gejala satu-satunya selama beberapa hari. Akhirnya abdomen menjadi sangat distensi, loop dari usus besar menjadi dapat dilihat dari luar melalui dinding abdomen, dan pasien menderita kram akibat nyeri abdomen bawah.

2.4 Patofisiologi
            Peristiwa patofisiologik yang terjadi setelah obstruksi usus adalah sama, tanpa memandang apakah obstruksi tersebut diakibatkan oleh penyebab mekanik atau fungsional. Perbedaan utama adalah obstruksi paralitik dimana peristaltic dihambat dari permulaan, sedangkan pada obstruksi mekanik peristaltik mula-mula diperkuat, kemudian intermitten, dan akhirnya hilang. Perubahan patofisiologi utama pada obstruksi usus adalah lumen usus yang tersumbat secara progresif akan tergang oleh cairan dan gas (70% dari gas yang ditelan) akibat peningkatan tekanan intralumen, yang menurunkan pengaliran air dan natrium dari lumen ke darah. Oleh karena sekitar 8 liter cairan diekskresikan ke dalam saluran cerna setiap hari ke sepuluh. Tidak adanya absorbs dapat mengakibatkan penimbunan intralumen dengan cepat. Muntah dan penyedotan usus setelah pengobatan dimulai merupakan sumber kehilangan utama cairan dan elektrolik. Pengaruh atas kehilangan ini adalah penyempitan ruang cairan ekstrasel yang mengakibatkan syok-hipotensi, pengurangan curah jantung, penurunan perfusi jaringan dan asidosis metabolik. Peregangan usus yang terus menerus mengakibatkan lingkaran setan penurunan absorbs cairan dan peningkatan sekresi cairan ke dalam usus. Efek local peregangan usus adalah iskemia akibat distensi dan peningkatan permeabilitas akibat nekrosis, disertai absorbsi toksin-toksin bakteri kedalam rongga peritoneum dan sirkulasi sistemik untuk menyebabkan bakteriemia. Pada obstruksi mekanik simple, hambatan pasase muncul tanpa disertai gangguan vaskuler dan neurologic. Makanan dan cairan yang ditelan, sekresi usus, dan udara terkumpul dalam jumlah yang banyak jika obstruksinya komplit. Bagian usus proksimal distensi, dan bagian distal kolaps. Fungsi sekresi dan absorbs membrane mukosa usus menurun, dan dinding usus menjadi edema dan kongesti. Distensi intestinal yang berat, dengan sendirinya secara terus menerus dan progresif akan mengacaukan peristaltic dan fungsi sekresi mukosa dan meningkatkan resiko dehidrasi, iskemia, nekrosis, perforasi, peritonitis, dan kematian.


2.5 Pengkajian
            Merupakan pendekatan awal dari proses keperawatan dan dilakukan secara sistematika mencakup aspek bio, psiko, sosio, dan spiritual. Langkah awal dari pengkajian ini adalah pengumpulan data ynag diperoleh dari hasil wawancara dengan klien dan keluarga, observasi pemeriksaan fisik, konsultasi dengan anggota tim kesehatan lainnya dan meninjau kembali catatan medis atau catatan keperawatan. Pengkajian fisik dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi.
Adapun lingkup pengkajian yang dilakukan pada klien ileus paralitik adalah sebagai berikut:
1)      Identitas pasien meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, agama, alamat, status perkawinan, suku bangsa.
2)      Riwayat Keperawatan
a.       Riwayat kesehatan sekarang, meliputi apa yang dirasakan klien saat pengkajian.
b.      Riwayat kesehatan masa lalu, meliputi penyakit yang diderita, apakah sebelumnya pernah sakit sama.
c.       Riwayat kesehatan keluarga, meliputi apakah dari keluarga ada yang menderita penyakit yang sama.
3)      Riwayat psikososial dan spiritual meliputi pola interaksi, pola pertahanan diri, pola kognitif, pola emosi, dan nilai kepercayaan klien.
4)      Kondisi lingkungan meliputi bagaimana kondisi lingkungan yang mendukung kesehatan klien.
5)      Pola aktivitas sebelum dan di rumah sakit meliputi pola nutrisi, pola eliminasi, personal hygiene, pola aktivitas sehari-hari, dan pola aktivitas tidur.
6)      Pengkajian fisik dilakukan secara inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi, yaitu:
a.      Inspeksi perut distensi, dapat ditemukan kontur dan steifung. Benjolan pada region inguinal, femoral dan skrotum menunjukkan suatu hernia inkarserata. Pada intussusepsi dapat terlihat masa abdomen berbentuk sosis. Adanya adhesi dapat dicurigai bila ada bekas luka operasi sebelumnya. Kadang teraba masa seperti tumor, invaginasi, hernia, rectal toucher. Selain itu, dapat juga melakukan pemeriksaan inspeksi pada:
1.      System penglihatan posisi mata simetris atau asimetris, kelopak mata normal atau tidak, pergerakan bola mata normal atau tidak, konjungtiva anemis atau tidak, kornea normal atau tidak, sklera ikterik atau anikterik, pupil isokor atau anisokor, reaksi terhadap otot cahaya baik atau tidak.
2.      System pendengaran daun telinga, serumen, cairan dalam telinga.
3.      System pernafasan kedalaman pernafasan dalam atau dangkal, ada atau tidak batuk dan pernafasan sesak atau tidak.
4.      System hematologi ada atau tidak perdarahan, warna kulit.
5.      System saraf pusat tingkat kesadaran, ada atau tidak peningkatan tekanan intracranial.
6.      System pencernaan kedalaman mulut, gigi, stomatitis, lidh bersih, saliva, warna dan konsistensi feces.
7.      System urogenital warna BAK.
8.      System integument turgor kulit, ptechiae, warna kulit, keadaan kulit, keadaan rambut.

b.      Palpasi
1.      System pencernaan abdomen, hepar nyeri tekan di daerah epigastrium.
2.      System kardiovaskuler pengisian kapiler.
3.      System integument ptechiae.

c.       Auskultasi
d.      Hiperperistaltik, bising usus bernada tinggi, borborhygmi. Pada fase lanjut bising usus dan peristaltic melemah sampai hilang.
e.       Perkusi

2.6 Diagnosa
            Adapun diagnose keperawatan yang muncul pada pasien dengan ileus paralitik menurut Harnawati, A. J, 2008 adalah sebagai berikut:


1)      Gangguan rasa nyaman nyeri epigastrium berhubungan dengan proses patologis penyakitnya.
2)      Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, dan anoreksia.
3)      Potensial terjadi syok hipovolemik berhubungan dengan kurangnya volume cairan tubuh.
4)      Gangguan pola eliminasi berhubungan dengan konstipasi.
5)      Gangguan pola tidur berhubungan dengan sakit kepala dan pegal-pegal seluruh tubuh.
6)      Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, dan perawatan pasien ileus paralitik berhubungan dengan kurangnya informasi.
7)      Kecemasan ringan-sedang berhubungan dengan kondisi pasien yang memburuk dan perdarahan yang dialami pasien.

2.7 Rencana Asuhan Keperawatan

No
Dp
Rencana Keperawatan
Tujuan
Intervensi dan Rasionalisasi
1
Gangguan rasa nyaman nyeri epigastrium berhubungan dengan proses patologis penyakitnya
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan rasa nyaman nyeri terpenuhi dengan criteria hasil: Nyeri hilang/ berkurang
a.       Kaji tingkat nyeri.
Rasional: untuk mengetahui seberapa berat rasa nyeri yang dirasakan dan mengetahui pemberian terapi sesuai indikasi.
b.      Berikan posisi senyaman mungkin.
Rasional: Untuk mengurangi rasa nyeri dan memberikan kenyamanan.
c.       Berikan lingkungan yang nyaman.
Rasional: Untuk mendukung tindakan yang telah diberikan guna mengurangi rasa nyeri.
d.      Kolaborasi dalam pemberian terapi analgetik sesuai indikasi (profenid 3x1 supp).
Rasional: Untuk mengurangi rasa nyeri.
2
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, dan anoreksia.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan gangguan nutrisi terpenuhi dengan kriteria hasil: Mual, muntah hilang, nafsu makan bertambah, makan habis satu porsi.
a.       Kaji keluhan mual, sakit menelan dan muntah.
Rasional: Untuk menilai keluhan yg ada yg dapat mengganggu pemenuhan kebutuhan nutrisi.
b.     Kolaburasi pemberian obat anti Emetik (Antacid).
Rasional: Membantu mengurangi rasa mual dan muntah.

3
Potensial terjadi syok hipovolemik berhubungan dengan kurangnya volume cairan tubuh.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan syok hipovolemik tidak terjadi dengan criteria hasil: Tanda-tanda vital dalam batas normal, volume cairan tubuh seimbang, intake cairan tepenuhi.
a.       Monitor keadaan umum penyimpangan dari keadaan normalnya.
Rasional: Menetapkan data dasar pasien untuk mengetahui penyimpangan dari keadaan normalnya.
b.      Observasi tanda-tanda vital.
Rasional: Merupakan acuan untuk mengetauhi keadaan umum pasien.
c.       Kaji intake dan output cairan.
Rasional: Untuk mengetahui keseimbangan cairan.
d.      Kolaborasi dalam pemberian cairan intravena.
Rasional: Untuk memenuhi keseimbangan cairan.
4
Gangguan pola eliminasi berhubungan dengan konstipasi.
Setelah dilakukan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan gangguan pola eliminasi tidak terjadi dengan kriteria hasil: Pola eliminasi BAB normal.
a.       Kaji dan catat frekuensi, warna dan konsistensi feces.
Rasional: untuk mengetahui ada tidaknya kelainan yang terjadi pada eliminasi fekal.
b.      Auskultasi bising usus.
Rasional: Untuk mengetahui normal atau tidaknya pergerakan usus.
c.       Anjurkan klien untuk minum banyak.
Rasional: Untuk merangsang pengeluaran feces.
d.      Kolaborasi dalam pemberian terapi pencahar (Laxatif)
Rasional: Untuk memberi kemudahan dalam pemenuhan kebutuhan eliminasi.
5
Gangguan pola tidur berhubungan dengan sakit kepala dan pegal-pegal seluruh tubuh.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan gangguan pola tidur teratasi dengan kriteria hasil: Pola tidur terpenuhi.
a.       Kaji pola tidur atau istirahat normal pasien.
Rasional: Untuk mengetahui pola tidur yang normal pada pasien dan dapat menentukan kelainan pada pola tidur.
b.      Beri lingkungan yang nyaman.
Rasional: Untuk mendukung pemenuhan kebutuhan aktivitas dan tidur.
c.       Batasi pengunjung selama periode istirahat.
Rasional: Untuk menjaga kualitas dan kuantitas tidur pasien.
d.      Pertahankan tempat tidur yang hangat, bersih, dan nyaman.
Rasional: Supaya pasien dapat tidur dengan nyaman.
e.       Kolaborasi pemberian terapi analgetika.
Rasional: Agar mengurangi rasa nyeri yang mengganggu pola tidur pasien.
6
Kecemasan ringan-sedang berhubungan dengan kondisi pasien yang memburuk dan perdarahan yang dialami pasien.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan kecemasan tidak terjadi dengan kriteria hasil: Keccemasan berkurang.
a.       Kaji rasa cemas klien.
Rasional: untuk mengetahui tingkat kecemasan pasien.
b.      Bina hubungan saling percaya dengan klien dan keluarga.
Rasional: Untuk terbinanya hubungan saling percaya antara perawat dan pasien.
c.       Berikan penjelasan tentang setiap prosedur yang dilakukan terhadap klien.
Rasional: Agar pasien mengetahui tujuan dari tindakan yang dilakukan pada dirinya.




2.8 Evaluasi

S: Klien / keluarga mengatakan…..
O: Klien tampak.
   Tanda-tanda vital: TD:…mmHg, N:..x/menit, RR:….x/menit, S:…oC.
A: Masalah teratasi / teratasi sebagian / belum teratasi.
P: Lanjutkan intervensi.

1 komentar: