Rabu, 28 Desember 2011

BENTUK – BENTUK SEDIAAN OBAT


BENTUK – BENTUK SEDIAAN OBAT.

I.      Bentuk Padat


1.      Tablet (compresi).
      Adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempacetak, dalam bentuk tabung pipih atau silinder, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Zat tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai zat pengisi, zat pengembang, zat pengikat, zat pelicin, zat pembasah atau zat lain yang cocok. Ada beberapa jenis tablet yang fungsinya berbeda – beda :
o   Tablet sublingual, tablet yang harus diletakkan di bawah lidah dimana kaya akan pembuluh darah sehingga bahan obat akan diserap dengan cepat; contoh tablet nitrogliserin
o   Tablet effervescent yang larut, tablet yang apabila dimasukkan di dalam air akan pecah dan kemudian melarut secara spontan; contoh tablet redoxon, jetscool.
o   Tablet kunyah, tablet yang harus dikunyah sebelum ditelan, dan tidak untuk ditelan dalam keadaan utuh. Biasanya berfungsi untuk melapisi dinding lambung; contoh tablet obat maag.
o   Tablet bersalut : adalah tablet yang disalut dengan zat penyalut yang cocok , tablet ini harus ditelan utuh untuk maksud dan tujuan tertentu, misalnya untuk melindungi rasa obat yang pahit, atau untuk maksud menahan obat untuk tidak melarut di dalam lambung, karena obat akan mengiritasi lambung atau akan dirusak oleh cairan lambung.:
a.       Tablet bersalut gula (tablet salut gula) : adalah tablet yang disalut dengan larutan gula atau zat lain yang cocok dengan atau tanpa penambahan zat warna, berfungsi untuk memberi rasa manis pada obat.
b.      Tablet bersalut kempa : adalah tablet yang disalut secara kempacetak dengan massa granulat yang terdiri dari Laktosa, kalsium fosfat atau zat lain yang cocok.
c.       Tablet bersalut selaput : adalah tablet yang disalut dengan lapisan yang dimuat dengan cara pengendapan zat penyalut dari pelarut yang cocok. Lapisan selaput umumnya tidak lebih dari 10 % berat tablet.
d.      Tablet bersalut enteric : adalah tablet yang disalut dengan zat penyalut yang relatif tidak larut dalam asam lambung, tetapi larut dan hancur dalam lingkungan basa usus halus.
o   Tablet slow-release, tablet yang berfungsi untuk melepaskan obat secara perlahan – lahan dalam jangka waktu lama, obat ini harus ditelan dalam keadaan utuh. Nama tablet seperti ini akan ditambah dengan huruf SR (Slow Release) di belakang nama obat.

2.      Kapsul (capsule)
      Adalah bentuk sediaan obat terbungkus cangkang kapsul, keras atau lunak. Cangkang kapsul dibuat dari gelatin dengan atau tanpa zat tambahan lain.
a.      Kapsul keras (dibuat 2 bagian), harus ditelah utuh, tetapi bila sukar ditelan, dapat dibuka kapsulnya untuk diminum obatnya saja.
b.      Kapsul lunak / soft capsul (dibuat satu bagian), biasanya berisi campuran obat dalam bentuk cair atau dalam pelarut minyak, kapsul harus ditelan dalam bentuk utuh.
c.       Kapsul salut enterik, Kapsul dibuat untuk menahan obat sehingga tidak melarut di dalam lambung akan tetapi kapsul hanya terbuka atau obat baru melarut setelah bersentuhan dengan cairan usus halus, harus ditelan utuh dalam bentuk keras atau lunak.
d.      Kapsul slow-release, Kapsul ini berfungsi untuk melepaskan obat secara perlahan – lahan dalam jangka waktu lama, harus ditelan utuh dalam bentuk keras atau lunak.

3.      Pil (pilulae)
      Adalah suatu sediaan berupa massa bulat, mengandung satu atau lebih bahan obat.

4.      Ovula (ovulae) / pessari
      Adalah sediaan padat yang digunakan melalui vagina, umumnya berbentuk telur, dapat melarut, melunak dan meleleh pada suhu tubuh.
      Bentuk obat ini dapat berupa lunak seperti supositoria atau dalam bentuk padat seperti tablet peluru.

5.      Serbuk (pulvis)
      Adalah campuran homogen dua atau lebih obat yang diserbukkan.
      Serbuk diracik dengan cara mencampur bahan obat satu persatu, sedikit demi sedikit dan dimulai dari bahan obat yang jumlahnya sedikit, kemudian diayak biasanya digunakan pengayak no 60. Jika serbuk mengandung bahan lemak diayak dengan pengayak no 44.
      Pulveres (serbuk bagi): adalah serbuk yang dibagi dalam bobot yang lebih kurang sama, dibungkus menggunakan bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum.
      Pulvis adspersorius (serbuk tabur) : serbuk bebas dari butiran kasar dan dimaksudkan untuk obat luar.

6.      Supositoria(suppositoria)
      Sediaan padat yang digunakan melalaui dubur, umumnya berbentuk torpedo, dapat melarut, melunak atau meleleh pada suhu tubuh.

II.    Bentuk Cairan


1.      Larutan (solotiones)
      Adalah sediaan cair yang mengandung bahan kimia terlarut. Kecuali dinyatakan lain sebagai pelarut digunakan air suling.

2.      Sirup (sirupi)
      Adalah sediaan cair berupa larutan yang mengandung sakarosa. Kecuali dinyatkan lain kadar sakarosa > 64% dan < 66 %

3.      Suspensi (suspensiones)
Adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut terdispersi dalam cairan pembawa.

4.      Emulsi (emulsa)
      Adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat, terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok.

5.      Eliksir (elixira)
      Adalah sediaan berupa larutanyang mempunyai rasa dan bau sedap, mengandung selain obat,juga zat tambahan seperti gula dan zat pemanis lainnya, zat warna, zat wewangi dan zat pengawet; digunakan sebagai obat dalam.

6.      Ekstrak (extracta)
      Adalah sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok, diluar pengaruh cahaya matahari langsung.

7.      Obat Kumur (gargle/gargarisma)
.     Adalah sediaan berupa larutan, umumnya dalam pekat yang harus diencerkan dahulu sebelum digunakan, dimaksudkan untuk digunakan sebagai pencegahan atau pengobatan infeksi tenggorok.

8.      Kolutorium (obat cuci mulut/collutoria)
      Biasanya merupakan larutan pekat dalam air yang mengandung bahan deodoran, antiseptika, aanalgetika local atau astringen.




9.      Tingtur (tinctura)
      Adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara maserasi aatau perkolasi simplisianabati atau hewani atau dengan cara melarutkan senyawa kimia dalam pelarut yang tertera pada masing – masing monografi.

10.  Minyak Lemak (olea pinguia)
      Cairan jernih atau massa padat yang menjadi jernih diatas suhu leburnya ; tidak berbau asing atau tengik.
      Minyak wijen, minyak biji kapas, minyak kacang dll.

11.  Minyak untuk Injeksi (olea pro injectione)
      Adalah minyak lemak nabati atau ester asam lemak tinggi; alam atau sintetis, harus jernih pada suhu 10 0

12.  Injeksi (injections)
      Adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi aatau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir.
      Injeksi digolongkan :
a.               Injeksi intraderma atau intrakutan. Umumnya berupa larutan atau suspensi dalam air, digunakan untuk diagnosa.
b.             Injeksi subkutan atau hipoderma, Umumnya larutan isotonus, dapat ditambahkan epinefrin untuk melokalisir efek obat,.
c.             Injeksi intramuskulus, larutan atau suspensi dalam air atau dalam minyak.
d.            Injeksi intravenous, umumnya berupa larutan, volume besar > 10 ml disebut infus sediaan berupa emulsi air – minyak tidak boleh disuntikan dengan cara ini.

13.  Infus (infusa)
      Adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati dengan air pada suhu 90 0 selama 15 menit

14.  Infus intravena (Infundibilia)
      Adalah sediaan steril berupa larutan atau emulsi, bebas pirogen  dan sedapat mungkin dibuat isotonus terhadap darah, disuntikan langsung ke dalam vena dalam volume relatif banyak.



15.      Imunoserum (immunosera)

        Adalah sediaan cair atau sediaan kering beku, mengandung imunoglobulin khas yang diperoleh secara pemurnian serum hewan yang telah dikebalkan. Imunoserum mempunyai khasiat khas menetralkan toksin kuman atau bisa ular atau mengikat kuman atau virus atau antigen lain yang sama dengan yang digunakan pada pembuatannya.

Imunoserum diperoleh dari hewan sehat yang telah dikebalkan dengan penyuntikan toksin atau toksoida, bisa ular atau suspensi jasadrenik atau antigen lain yang cocok. Selama pengebakanhewan tidak boleh diberi penicillin.

16.      Vaksin (vaccina)
        Adalah sediaan mengandung antigen dapat berupa kuman mati, kuman inaktif atau kuman hidup yang dilumpuhkan virulensinya tanpa merusak potensi antigennya, dimaksudkan digunakan untuk menimbulkan kekebalan aktif dan khas terhadap infeksi kuman atau toksinnya

17.      Obat tetes (guttae)
        Adalah sediaan cair berupa larutan, emulsi atau suspensi, dimaksudkan untuk obat dalam atau obat luar, digunakan dengan cara meneteskan menggunakan penetes yang menghsilkan tetesan setara dengan tetesan yang dihasilkan penetes baku yang disebutkan Farmakope Indonesia.
        Guttae Oris (tetes mulut), adalah obat tetes yang digunakan untuk mulut dengan cara mengencerkan lebih dahulu dengan air, untuk dikumur – kumur tidak untuk ditelan.
        Guttae Auriculares (tetes telinga), adalah obat tetes yang digunakn untuk telinga dengan cara meneteskan obat kedalam telinga.
Guttae Nasales (tetes hidung), adalah obat tetes yang digunakn untuk hidung dengan cara meneteskan obat kedalam rongga hidung.
Guttae Ophthalmicae (tetes mata), adalah sediaan steril  berupa larutan atau suspensi, digunakan untuk mata, dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata dan bola mata.

III.     Bentuk semi padat

1.      Krim (cremores)
      Adalah sediaan setengah padat, berupa emulsi mengandung air tidak kurang dari 60 % dan dimaksudkan untuk pemakaian luar.
      Ada dua tipe krim, krim tipe minyak  -  air dan krim tipe air – minyak 

2.      Salep mata (oculenta)
      Adalah sediaan steril untuk pengobatan mata menggunakan dasar salep yang cocok.

3.      Pasta (pastae)
      Sediaan berupa massa lembek yang dimaksudkan untuk pemakaian luarBiasanya dibuat dengan mencampurkan bahan obat yang berbentuk serbuk dalam jumlah besar dengan vaselin atau paraffin cair atau dengan bahan dasar tidak berlemak yang dibuat dengan gliserol, musilago atau sabun. Digunakan sebagai antiseptik atau pelindung kulit.

4.      Salep (unguenta)
      Adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar Bahan obat harus larut atau suspensi homogen dalam dasar salep yang cocok.

5.      Losio (lotions)
Adalah sediaan cair berupa suspensi atau dispersi, digunakan sebagai obat luar. Dapat berbentuk suspensi zat padat dalam bentuk serbuk halus dengan bahan pensuspensi yang cocokatau emulsi tipe minyak dalam air dengan surfaktan yang cocok.

IV.             Lain – lain

1.      Erosol (aerosolum)
Adalah sediaan yang mengandung satu atau lebih zat berkhasiat dalam wadah yang diberi tekanan, berisis propelan atau campuran propelan yang cukup untuk memancarkan isinya hingga habis. Untuk obat dalam atau luar.

2.      Inhalasi (inhalationes)
Adalah sediaan yang dimaksud untuk disedot melalui hidung atau mulut, atau disemprotkan dalam bentuk kabut ke dalam saluran pernapasan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar