iklan

Senin, 26 Desember 2011

peran perawat dalam perawatan pasien fraktur


BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar belakang

Fraktur adalah suatu patahan kontiunitas struktur tulang, patahan tadi mungkin tidak lebih dari suatu retakan. Suatu pengisutan atau perimpilan korteksi biasanya patahan itu lengkap dan pragmen dan tulang bergeser. Kalau kulit diatasnya masih utuh, keadaan ini disebut fraktur tertutup, kalau kulit atau salah satu rongga tubuh tertembus , keadaan ini disebut fraktur terbuka yang cenderung mengalami kontiunitas dan infeksi. (Atkins, 1990)

            Diluar negeri, angka kejadian berkisar 25-29%, sedangkan diasia mencapai sekitar 19-25%. Di amerika kejadian patah tulang akibat osteoporosis berjumlah 1,5 juta kasus setiap tahunnya, dengan 300 000 kasus diantaranya adalah patah tulang pangkal paha. Beberapa penelitian mengidentifikasikan bahwa sepertiga wanita pasca menopause akan menderita patah tulang akibat osteoporosis.

            Kejadian fraktur karena osteoporosis mencapai 40% dari semua wanita berusia diatas 50 tahun dan 50% dari semua wanita berusia diatas 70 tahun. Hal ini akan menyebabkan meningkatnya angka kesakitan dan angka kematian secara nyata. Sekitar 20% dari penderita fraktur pangkal paha karena osteoporosis akan meninggal dan 50% mengalami ketergantungan didalam hidupnya, dengan biaya perawatan yang dikeluarkan cukup besar setiap tahun (Burdia, 2002).

            Osteoporosis pascamonopause juga meningkatkan resiko patah tulang. Diluar negeri, angka kejadian berkisar 25-29 persen, sedangkan di Asia mencapai sekitar 19-25 persen, selama ini mengatasi osteoporosis dilakukan dengan terapi sulih hormon dan operasi. Kasus patah tulang osteoporosis di Amerika Serikat mencapai 1,5 juta jiwa orang. Angka tersebut diperkirakan akan meningkat. Di indonesia yang mengalami fraktur akibat osteoporosis sebanyak 227,850 orang. (wed, 2003).
Berdasarkan data medical record rumah sakit A angka kejadian fraktur pada tahun 2000 sebanyak 157 orng, tahun 2001 sebanyak 213 orang dan pada tahun 2002 sebanyak 290 orang. Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa jumlah penderita fraktur tergolong tinggi dan kecelakaan lalulintas masih merupakan fraktor utama yang menyababkan fraktur.

            Dalam hal ini perawat sebagai pelayanan asuhan dan pelayanan keperawatan dirumah sakit untuk itu perlu adanya peningkatan mutu pelayanan yang diberikan, dalam hal ini ditujukan kepada perawat dirumah sakit yang merupakan bagian terbesar dari seluruh pekerja dan petugas yang ada. Hal ini mengingat keberadaan perawat yang harus berfungsi terus menerus selama 24jam untuk dapat memberikan pelayanan asuha dan pelayanan keperawatan secara intensif mempengaruhi kepuasan klien, dalam hal ini peran perawat terhadap perawatan pasien fraktur antara lain sebagai pelaksana, pendidik, pengelola, dan peneliti. (Gafar, 1999).

2. Pertanyaan Penelitian

1)      Bagaimana peran perawat sebagai pendidik dalam upaya perawatan fraktur di IRNA Bedah RS A Tahun 2004
2)      Bagaimana peran perawat sebagai pelaksana asuhan keperawatan dalam upaya perawatan fraktur di IRNA Bedah RS A Tahun 2004

3. Tujuan Penelitian

a.       Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana peran perawat terhadap perawatan pasien fraktur di IRNA Bedah RS A Tahun 2004.




b.      Tujuan khusus
                        Tujuan khusus penelitian ini adalah :
1.      Untuk mengetahui peran perawat sebagai pendidik terhadap perawatan  fraktur di IRNA Bedah RS A Tahun 2004
2.      Untuk mengetahui peran perawat sebagai pelaksana terhadap perawatan fraktur di IRNA Bedah RS. A Tahun 2004

4. Manfaat Penelitian

1)      Untuk Rumah Sakit

Hasil penelitian ini diharapkan masukan bagi Rumah Sakit A dalam upaya peningkatan peran perawat khususnya terhadap perawatan pasien fraktur.

2)      Untuk Institusi Pendidikan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan refrensi untuk dapat meningkatkan kualitas pendidik bagi mahasiswa ilmu keperawatan muhammadiyah palembang.

3)      Untuk peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan khususnya tentang peran perawat terhadap perawatan pasien fraktur.





5. Ruang Lingkup Penelitian

            Penelitian ini dilaksanakan di rumah sakit A dengan judul ”peran perawat terhadap perawatan pasien fraktur di IRNA Bedah rumah sakit A” penelitian ini dilakukan  pada bulan januari tahun 2004.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


1 Definisi secara umum

1.1 Pengertian fraktur

Fraktur adalah suatu patahan kontiunitas struktur tulang, patahan tadi mungkin tidak lebih dari suatu retakan. Suatu pengisutan atau perimpilan korteksi biasanya patahan itu lengkap dan pragmen dan tulang bergeser. Kalau kulit diatasnya masih utuh, keadaan ini disebut fraktur tertutup, kalau kulit atau salah satu rongga tubuh tertembus , keadaan ini disebut fraktur terbuka yang cenderung mengalami kontiunitas dan infeksi. (Atkins, 1990)

1.2 Etiologi

         Patah tulang biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik, kekuatan dan dari sudut pandang tersebut, keadaan tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap, fraktur lengkap terjadi apabila seluruh tulang patah, sedangkan pada fraktur tidak lengkap tidak  melibatkan seluruh ketebalan tulang. (Price, 1995).
         Fraktur juga dapat disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan puntir mendadak dan bahkan kontraksi otot ekstern, meskipun tulang patah, jaringan sekitar juga akan terpengaruhi, mengakibatkan edema jaringan lunak, pendarahan keotot dan sendi, dislokasi sendi, ruptur tendon, kerusakan saraf, dan pembuluh darah, organ tubuh dapat mengalami cidera akibat gaya yang disebabkan oleh fraktur atau akibat fragmen tulang. (Smalzer, 2001)  



1.3 Gejala dan tanda

1.      Riwayat trauma
2.      Nyeri lokal dan makin bertambah bersama gerakan.
3.      Hilangnya fungsi anggota gerak dan persendian yang terdekat.
4.      Terdapat perubahan bentuk (deformitas)
5.      Nyeri tekan, nyeri ketok, nyeri sumbu. Krepitasi tidak perlu selalu dibuktikan
6.      gerakan-gerakan abnormal
7.      pemeriksaan keadaan neurovaskuler di bagian distal dari garis fraktur.

1.4 Patofisiologi

1.      Greenstik fractures
Fraktur ini terjadi pada tulang anak-anak yang”lunak”. Seperti sepotong dahan, jaringan tulang tersebut kadang kala membengkok walau tidak terjadi patah. Tulang tersebut ”patah” pada sisi luar (cortex) dan efek bengkoknya sering terlihat pada sisi yang lainnya. 
2.      Fraktur Patologis (pathological fractures)
Intinya, fraktur ini disebabkan oleh penyakit sehingga tulang menjadi lemah dan mudah patah hanya dengan adanya sedikit tekanan. Kadang kala hal seperti ini disebabkan oleh penyakit, misal : osteoporosis, tapi tidak tertutup kemungkinan hal tersebut disebabkan oleh tumor tulang, dan menjadi gejala awal yang ditunjukan kepada pasien yang menidap tumor. Fraktur pada bagian tertentu, misalnya pada tulang belakang, bagian atas femur atau humerus, dengan sedikit benturan kecil harus ditangani dengan lebih hati-hati.                   



                 
1.5. Diagnosa fraktur
Fraktur didiagnosa melalui riwayat kecelakaan dan pemeriksaan pasien secara klinis. Diagnosa ini bisa juga berdasarkan hasil rontgen X-Rays, tapi sering terjadi kekeliruan, sehingga kadang kala gagal untuk mendeteksi fraktur sampai tanda-tanda penyatuan mulai terlihat. Gejala dan tanda-tanda awal terjadinya fraktur diketahui dengan adanya hal sebagai berikut:
a.      Sakit
Sakit adalah gejala umum dari fraktur. Biasanya pasien mengetahui persis tempat rasa sakit tersebut.
b.      Pembengkakan
Besarnya pembengkakan tidak dapat menggambarkan tipe fraktur, meskipun hal tersebut sebagian besar berhubungan dengan kerusakan pada jaringan lunak, tapi hal yang paling utma adalah gangguan peredaran darah pada tungkai yang cedera.
c.       Perubahan bentuk
Kadang kala perubahan bentuk terjadi pada cedera yang spesifik, seperti pada fraktur colles. Perubahan bentuk disini disebabkan oleh arah tekanan yang dialami. Pada kasus lain, perubahan bentuk disebabkan oleh adanya otot yang menekan fragmen tulang secara langsung.
d.      Kehilangan fungsi
Tidak mengherankan jika seorang yang mengalami fraktur tidak mau menggerakkan kakinya karena akan menimbulkan rasa sakit. Namun, jika kaki tersebut telah digips dan disangga, sangat dianjurkan untuk memfungsikan kembali kakinya yang cadera tersebut, khususnya pergerakan pada jari. Jika pasien masih tidak bisa menggerakkan jari atau ibujarinya, kita harus menyelidiki lebih lanjut adanya kemungkinan cedera pada syaraf atau ada otot yang hilang.


1.6 Penatalaksanaan fraktur

1.      penilaian umum seluruh tubuh penderita
2.      penilaian fraktur
3.      spilinting temporer
mengurangi perlukaan jaringan lunak, mengurangi pendarahan dan mengurangi rasa sakit.
4.      reduksi fraktur (reduksi terbuka dan tertutup)
5.      imobilisasi (fiksasi interna, traksi dan pemasangan gips interna)
6.      mempertahankan fungsi
7.      rehabilitasi
8.      mencegah terjadinya komplikasi
a.       shoks seperti fraktur pelvik
b.      embolus klomunal
c.       embolus lemak
d.      tekanan gips
e.       luka akibat penekanan
f.       batu ginjal


1.7 Pemulihan fraktur

Proses pemulihan fraktur tulng menekan waktu cukup lama dan melalui 5 tahap yaitu :
1.      proses pembetukan hematona
2.      proses pertumbuhan sel baru
3.      proses pembentukan callus / tulang
4.      proses penyatuan
5.      proses pembentukan kembali


1.8 Prinsip tindakan fraktur

a.      reduksi fraktur
Yaitu mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan rotasi anatomis.
b.      imobilisasi fraktur
setelah fraktur direduksi, fragmen tulang haarus diimobilisasi atau dipertahankan dalam posisi dan kesejajarannya yang benar sampai terjadi penyatuan tulang.
c.       Mempertahankan dan mengembalikan fungsi
Mempertahankan dan mengembalikan fungsi dapat dilakukan dengan cara mempertahankan reduksi dan imobilisasi, meninggikan untuk meminimalkan pembengkakan, memantau status neuro vaskular, mengontrol kecemasan dan nyeri, pelatih isometrik dan setting otot, berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari dan kembali keaktivitas secara bertahap.

2. Definisi Secara Khusus

1.      Pengertian Peran Perawat

Peran perawat adalah tingkah laku yang diharapkan oleh seseorang terhaadap orang lain (dalam hal ini adalah perawat) untuk berproses dalam sistem sebagai pemberi asuhan keperawatan, pelayanan, pengelolah, pendidik, dan peneliti. (zaidin,2002)

2.      Pengertian Perawat

perawat adalah seseorang yang telah selesai program pendidikan keperawatan, berwenang dinegara bersangkutan untuk memnerikan pelayanan, dan bertanggung jawab dalam peningkatan kesehatan pencegaham peyakit serta pelayanan tarhadap pasien. (zaidin, 2001)
perawat adalah mereka yang memiliki kemampuan dan kewenangan melakukan tindakan keperawatan berdasarkan ilmu yang dimilikinya yang diperoleh melalui pendidikan keperawatan.(UU Kesehatan no. 23, 1992).

3.      Peran Perawat

a.      Peran Perawat Sebagai Pendidik

sebagai pendidik atau healt educator, perawat berperan mendidik individu, keluarga, kelompok dan masyarakat serta tenaga keperawatan atau tenaga kesehatan yang berada dibawah tanggung jawabnya. Peran ini dapat berupa penyuluhan kesehatan kepada klien (individu, keluarga, kelompok atau masyarakat) maupun bentuk desiminasi ilmu kepada peserta didik keperawatan, antara sesama perawat atau tenkes lain.

b.      Peran Perawat Sebagai Pelaksana

peran ini dikenal dengan istilah care giver. Peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan secara langsung atau tidak langsung kepada klisn sebagai individu, keluarga, dan masyarakat. Metode yang digunakan adalah pendekatan dan pemecahan masalah yang disebut proses keperawatan. Dalam melaksanakan peraa ini perawat bertindak sebagai comforter, protector, dan advokasi, comunicator, serta rehabilitator.






BAB III
KERANGKA KONSEP

1.      kerangka konsep

Peran perawat sangat penting dalam perawatan pasien fraktur,karena perawat bertindak sebagai pendidik dan pelaksana, pengelola dan peneliti. (gaffar, 1999)

Dalam hal ini, peneliti hanya menganbil dua sub variabel peran perawat, yaitu peran perawat sebagai pendidik dan peran perawat sebagai pelaksana.
Peran perawat sebagai pendidik dimana perawat memberikan penyuluhan dan pendidikan kesehatan kepada klien, sedangkan peran perawat sebagai pelaksana dimana perawat memberikan asuhan keperawatan kepada klien terhadap perawatan fraktur.
           

Maka kerangka konsep yang didapat oleh peneliti adalah sebagai berikut :



 





                                                          











2. Definisi Operasional

NO
Varibel
Definis Operasional
Cara Ukur
Alat Ukur
Hasil Ukur
Skala
1.
Peran Perawat
Perawat memberikan pendidikan kesehatan dan melaksanakan asuhan keperawatan terhadap pasien fraktur.
observasi
Cek list
kuasioner
Baik >=75%
Kurang baik < 75%
Ordinal

2
Peran perawat sebagai pendidik
Perawat memberikan pendidikan kesehatan dan penyuluhan terhadap pasien fraktur
observasi
Check List Observasi
Baik >=75%
Kurang baik < 75%
Ordinal
3
Peran perawat sebagai pelaksana
Perawat memberikan asuhan keperawatan secara langsung kepada pasien fraktur
observasi
Check List Observasi
Baik >=75%
Kurang baik < 75%
Ordinal

                 

BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

  1. Jenis Data Dan Desain Penelitian

Jenis penelitian yang ini adalah deskriptif survey dengan pendekatan krossectional dengan tujuan untuk mengetahui gambaran peran perawat trehadap perawatan pasien fraktur di IRNA Bedah RS A Tahun 2004. 

  1. Populasi dan sample penelitian
    1. Populasi penelitian
Populasi penelitian ini adalah perawat yang bekerja di ruang IRNA Bedah RS A Tahun 2004.
    1. Sampel penelitian
Adapun sample penelitian ini perawat yang bekerja di IRNA Bedah RS A tahun 2004.

  1. lokasi dan waktu penelitian
pemelitian ini dilakukan diruangan Bedah C, ruangan Bedah b, dan ruangan bedah A, di IRNA Bedah RS A. dan penelitian ini dilakukan pada bulan fabruari Tahun 2004.

  1. tekhnik dan instrument pengumpulan data
a.      tekhnik pengumpulan data
pengumpulan data-data dari penilitian ini dilakukan sendiri oleh peneliti yang diambil langsung dari responden melalui observasi dengan pengisian chek list.
b.      Instrument pengumpulan data ini adalah berupa chek list



  1. Pengolahan Data
1.      Editing (pengolahan data)
Yaitu penelitian kembali apakah isian lembar kuasioner sudah cukup baik
2.      Codiing (pengkodian)
Yaitu mengklasifikasikan jawaban atau hasil yang ada menurut macamnya kebentuk yang telah ringkas dengan menggunakan kode.
3.      Entry data (pemasukan data)
Data yang telah diselesaikan dacooding dan diteliti kemudian dimasukkan dalam tabel.
4.      cleaning data (pembersihan data)
memeriksa kembali data yang telah dimasukkan sehingga terbatas dari kesalahan.

  1. Analisa data
Analisa penelitian ini aadalah analisa univariat untuk melihat karakteristik dan kualitas variabel dengan tujuan melihat kelayakan data dan gambaran data yang dikumpulkan.

7.      Etika Penelitian

            Dalam penelitian ini mendapat rekomendasi dari Ka.Program Studi Ilmu Keperawatan Muhammadiyah Palembang setelah disetujui oleh pembimbing I dan pembimbing II selaku pembimbing penelitian. Kemudian permintaan secara tertulis kepada Ketua STIKES Muhammadiyah Kemudian penelitian akan dilakukan dengan memperhatikan masalah etika antara lain sebagai berikut :
1.      Lembar persetujuan menjadi responden (Informed consent) saat pengambilan sampel terlebih dahulu peneliti meminta izin kepada responden secara lisan atas kesediaannya menjadi responden.
2.      Anonymity (tanpa nama)
Pada lembar persetujuan maupun lembar hasil pemeriksaan tidak akan menuliskan nama responden tetapi hanya dengan memberi simbol saja.
3.  Confidentiality (kerahasiaan)
Pembenaran informasi oleh responden dan semua data yang terkumpul akan menjadi koleksi pribadi tidak akan disebarluaskan kepada orang lain tanpa seizin responden.
4.   Equity (Keadilan)
Perlakuan yang sama pada responden yang mengalami serangan asma berulang maupun  yang tidak berulang

           






















BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

1.Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada 30 responden mengenai peran perawat terhadap perawatan pasien fraktur di IRNA Bedah RS.A tahun 2004.

            peran perawat sebagai pelaksana terhadap perawatan pasien fraktur, sebagian besar mempunyai kategori baik yaitu 29 responden ( 96,7% ).
            peran perawat sebagai pelaksana terhadap perawatan pasien fraktur sebagian besar mempunyai kategori baik yaitu 20 responden ( 66,7% ).

2. Saran.
2.1. untuk peneliti
Diharapkan lebih meningkatkan kemampuan serta wawasan terutama yang berkaitan dengan ilmu keperawatan sehingga menghasilkan penelitian yang dapat memperkaya ilmu keperawatan.

2.2. untuk institusi pendidikan
Diharapkan institusi pendidikan dapat lebih meningkatkan lagi mutu pendidikan agar dapat menyempurnakan lagi kerangka dan proses penelitian, dengan dukungan diperbanyaknya buku-buku mengenai kesehatan dan keperawatan pada umumnya dan kiat cara peran perawat terhadap perawatan pasien fraktur serta diharapkan dapat lebih meningkatkan proses belajar dan mengajar mengenai penelitian dengan konsep orientasi langsung ke mahasiswa dan lapangan tempat penelitian.



2.3. untuk Rumah Sakit
Diharapkan Rumah Sakit dapat memberikan informasi kepada pasien dan keluarga tentang cara perawatan fraktur baik melalui penyuluhan maupun memberikan pendidikan kesehatan langsung ke penderita dan keluarganya serta dapat meningkatkan pelayanan kesehatan pada penderita fraktur.

2.4. untuk pasien
Diharapkan pasien mengerti dan memahami mengenai bagaimana cara mengatasi dan menangani fraktur dengan baik. Bila mana diantara keluarga ada yang terkena fraktur.



DAFTAR PUSTAKA

Aam (2006).Fraktur.Http://www.com.Mediah.18 september 2004
Ali, Zaidin .2002. Dasar-Dasar Keperawatan Profesional. Jakarta
Anindyatjati(2006). Frakutr.http:media.com.september.
Gaffar, La Ode jumadi. 1999 Pengantar Keperawatan Profesional. Jakarta : ECG.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar