iklan

Minggu, 01 Januari 2012

askep bronchiolitis


LAPORAN PENDAHULUAN PADA GANGGUAN SISTEM PERNAFASAN
DENGAN BRONCHIOLITIS

PENDAHULUAN
Bronchiolitis adalah infeksi saluran pernapasan paling serius yang dididap bayi berusia di bawah 12 bulan. Penyakit ini menyebabkan peradangan bronchiolitis yaitu saluran udara terkecil di dalam paru-paru.
Bronchiolitis disebabkan virus. Pada sebagian besar kasus, virus ini disebut virus syncytial pernapasan. Mereka yang berisiko tinggi terkena penyakit ini adalah bayi yang baru lahir prematur dan mengidap penyakit paru-paru atau bayi dengan penyakit jantung bawaan. Sekitar 90 persen penderita adalah bayi yang berusia di bawah sembilan bulan. Bronchiolitis merupakan penyakit yang jarang terjadi pada anak yang berusia di atas 12 bulan. Biasanya, kondisi ini terjadi di musim dingin.
Tanda-tanda atau symptom awal infeksi ini mirip dengan pilek seperti mengalir, demam ringan, mudah sakir dan tidak nafsu makan. Setelah beberapa hari, penderita mengidap batuk kering disertai suara serak dan kesulitan bernapas yang semakin meningkat. Napas bayi terdengar berbunyi mendecit dan sulit bernapas, sering menarik napas pendek sehingga dinding dada dan tulang rusuk terlihat. Gangguan pernapasan ini bisa mempengaruhi pola nafsu makan.

Gejala-gejala yang lebih mengkhawatirkan adalah tahap-tahap dimana bayi berhenti bernapas selama lebih dari sepuluh detik dalam satu kesempatan. Gejala ini disebut recurrent apnea. Bayi menjadi mudah mengantuk dan bibirnya mulai membiru.
Bronchiolitis ringan dapat diatasi di rumah dengan minum sirup yang mengandung paracetamol untuk demam dan mengatasi rasa gelisah. Beri minum air putih sebanyaknya untuk menghindari dehidrasi. Pemberian antibiotik tidak dianjurkan karena tidak memberikan manfaat. Meski dokter umumnya merekomendasikan obat bronchodilator untuk membantu kelancaran pernapasan. Bayi-bayi yang mengidap bronchiolitis yang lebih parah harus dirawat di rumah sakit. Biasanya, penderita diberikan oksigen yang lembab melalui selang udara ke hidung atau headbox atau pada beberapa kasus parah, melalui ventilasi buatan.
Virus Respiratory Syncytial (RSV) adalah virus yang menyebabkan terjadinya infeksi pada paru dan saluran napas. Virus ini sering sekali menyerang anak-anak, biasanya seorang anak yang berusia 2 tahun biasanya sudah pernah terinfeksi oleh virus ini. RSV juga dapat menginfeksi orang dewasa.
Pada orang dewasa dan anak-anak yang berusia lebih tua dan dalam keadaan sehat, tanda-tanda dan gejala RSV sama persis dengan gejala selesma. Hal ini menyebabkan terjadinya infeksi RSV yang seriua pada bayi dan anak-anak. Serangan RSV yang parah menyebabkan perlunya perawatan di rumah sakit, terutama untuk bayi kurang dari 6 bulan, anak-anak dengan kondisi kesehatan tertentu seperti pengidap penyakit jantung atau paru-paru dan anak-anak yang terlahir prematur. Infeksi RSV juga dapat menyebabkan penyakit serius pada orang dewasa yang berusia lanjut dan orang dewasa yang mengidap penyakit pada jantung dan paru-paru.
Bila
kita bertindak secara hati-hati dan rasional maka kita dapat mencegah penyebaran virus RSV.

DEFENISI
Penyakit ini merupakan suatu sindrom obstruksi bronkiolus yang sering diderita bayi dan anak kecil yang berumur kurang dari 2 tahun. Angka kejadian tertinggi rata-rata ditemukan pada usia 6 bulan.
EPIDEMIOLOGI
25 % dari anak-anak di bawah usia satu tahun dan 13% anak-anak dari usia 1-2 tahun dapat mengalami infeks pernapasan. Maka dari itu sebagian akan menderita penyakit pernapasan. Sepertiga pasien yang menderita RSV mendapat perawatan rawat jalan dan 80% harus dirawat di rumah sakit kurang dari 6 bulan. Diantara yang sembuh semuanya bayi, 80% yang datang berobat ke rumah sakit adalah bayi dan 50% yang datang berobat ke rumah sakit adalah anak-anak berusia 1-3 tahun. Kurang dari 5 % yang datang berobat pada 30 hari pertama, mungkin telah terjadi pemindahan antibody dari ibu. Faktor resiko yang mempercepat terjadinya penyakit dan kemudian berobat ke rumah sakit dengan riwayat berat badan yang rendah
.
ETIOLOGI
Bronkhiolitis akut sebagian besar disebabkan oleh Respiratory synctial virus (50%). Penyebab lainnya ialah parainfluenza virus, Eaton agent (Mycoplasma pneumoniae), adenovirus dan beberapa virus lain.
PATOGENESIS
Pada bronkiolus terdapat obstruksi partial atau total karena edema dan akumulasi mucus dan eksudat yang liat. Di dinding bronchus dan bronkiolus terdapat infiltrasi sel radang. Radang dijumpai peribronkial dan di jaringan interstitial. Obstruksi parsial bronkiolus menimbulkan emfisema dan obdtruksi total menimbulkan atelektsis. Pertukaran udara yang terganggu menyebabkan ventilasi berkurang dan hipoksemia, peningkatan frekwensi napas sebagai kompensasi. Pada kedaan sangat berat dapat terjadi hiperkapnia.
GAMBARAN KLINIS
Bronkiolitis akut biasanya didahului oleh infeksi saluran napas bagian atas, disertai dengan batuk pilek untuk beberapa hari, biasanya tanpa disertai kenaikan suhu atau hanya subfebril. Anak mulai mengalami sesak napas, makin lama makin hebat, pernapasan dangkal dan cepat dan disertai dengan serangan batuk. Terlihat juga pernapasan cuping hidung disertai retraksi interkostal suprasternal, anak gelisah dan sianotik. Pada pemeriksaan terdapat suara perkusi hipersonor, ekspirium memanjang disertai dengan mengi (‘wheezing’).
Ronki nyaring halus kadang-kadang terdengar pada akhir ekspirium atau pada permulaan ekspirium. Pada keadaan yang berat sekali, suara pernapasan hamper tidak terdengar karena kemungkinan obstruksi hamper total. Foto roentgen toraks menunkjukkan paru-paru dalam keadaan hipererasi dan diameter antero-posterior membesar pada foto lateral. Pada sepertiga dari penderita ditemukan bercak-bercak konsolidasi tersebar disebabkan atelektasis atau radang.
Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan gambaran darah tepi dalam batas normal, kimia darah menunjukkan gambaran asidosis respiratorik maupun metabolik. Usapan nasofaring menunjukkan flora bakteri normal.
TANDA-TANDA DAN GEJALA
Tanda-tanda dan gejala infeksi RSV biasanya kelihatan pada empat hingga enam hari setelah terjadi paparan terhadap infeksi virus. Pada orang dewasa dan anak-anak yang berusia lebih dari 3 tahun, RSV biasanya menyebabkan terjadinya tanda-tanda seperti selesma ringan dan gejala yang mirip dengan gejala yang ada pada infeksi saluran pernapasan atas. Tanda-tanda ini adalah :
1.      Hidung mampet atau berlendir
2.      Batuk kering
3.      Demam dengan suhu yang tidak terlalu tinggi
4.      Sakit leher
5.      Sakit kepala ringan
6.      Rasa tidak nyaman dan gelisah (malaise)
Pada anak-anak berusia kurang lebih dari 3 tahun, RSV dapat menyebabkan timbulnya penyakit pada saluran pernapasan bagian bawah seperti radang paru atau bronchiolitis-peradangan pada saluran udara yang kecil-kecil pada paru-paru. Gejala dan tanda-tandanya adalah :

1.      Demam dengan suhu tinggi
2.      Batuk yang parah
3.      Tersengal-sengal – ada suara ngik yang biasanya terdengar saat menghembuskan napas
4.      Napasnya cepat atau sulit untuk bernapas, yang mungkin akan menyebabkan anak lebih memilih untuk duduk daripada berbaring
5.      Warna kebiruan pada kulit yang disebabkan oleh kekurangan oksigen
Akibat paling parah akibat infeksi RSV akan diderita oleh bayi dan balita. Pada bayi dan balita yang menderita infeksi RSV, tanda-tandanya akan terlihat jelasa saat mereka menarik otot dada dan kulit di sekitar tulang iga, yang menandakan bahwa mereka mengalami kesulitan bernapas, dan napas mereka mungkin pendek, dangkal dan cepat. Atau mereka mungkin tidak menunjukkan adanya infeksi saluran napas, tapi mereka tidak mau makan dan biasanya lemas dan rewel.
Kebanyakan anak-anak dan orang dewasa akan membaik dalam delapan hingga 15 hari. Tapi pada bayi-bayi yang usianya masih sangat muda, bayi yang terlahir premature, atau bayi atau orang dewasa yang memiliki masalah pada jantung dan paru-paru , virus ini akan menyebabkan infeksi lebih berat – seringkali mengancam keselamatan jiwa – yang membutuhkan perawatan di rumah sakit.
PENYEBAB
Virus RSV masuk ke dalam tubuh melalui mata, hidung atau mulut. Virus ini menyebar dengan sangat mudah melalui sekresi pada saluran napas yang sudah terinfeksi –seperti melalui air ludah yang tersebar pada saat batuk atau bersin-yang dihirup atau ditularkan ke orang lain melalui kontak langsung, seperti berjabat tangan. Virus juga dapat hidup selama berjam-jam pada benda-banda seperti meja dan boneka. Sentuh mulut, hidung atau mata anda setelah anda menyentuh benda yang telah terkontaminasi, dan kemungkinan besar anda akan tertular oleh virus tersebut. Orang yang terinfeksi akan menularkan virus tersebut dalam waktu beberapa hari pertama setelah ia pertama kali terinfeksi virus, tapi RSV dapat tersebar selama beberapa minggu setelah infeksi dimulai.
FAKTOR RESIKO
Pada usia 2 tahun, biasanya anak-anak sudah pernah terinfeksi RSV. ANak-anak yang dititipkan di tempat penitipan atau memiliki saudara kandung yang sudah bersekolah akan memiliki resiko lebih tinggi tertular infeksi ini. Begitu juga balita yang berada pada lingkungan yang berisiko tinggi untuk terpapar pada polusi udara dan asap rokok. Kerentanan juga akan meningkat saat musim RSV tertinggi, yang biasanya dimulai pada musim gugur dan berakhir di musim semi.
Orang-orang yang memiliki resiko tinggi untuk terkena infeksi –yang terkadang juga mengancam keselamatan jiwa-adalah :
1.      Bayi berusia kurang dari 6 bulan
2.      Anak-anak yang memiliki kondisi kesehatan kurang baik terutama mereka yang mengidap penyakit jantung atau paru bawaan
3.      Anak-anak yang system kekebalan tubuhnya rendah, seperti mereka tengah menjalani kemoterapi atau transplantasi.
4.      Anak-anak yang terlahir premature
5.      Orang-orang dewasa berusia lanjut
6.      Orang dewasa pengidap gagal jantung atau penyakit kronis

KAPAN HARUS MENCARI BANTUAN MEDIS
Sebagian besar kasus infeksi RSV bukanlah kasus yang gawat darurat. Meskipun demikian, anda harus mencari bantuan secara medis bila ada anak, atau orang dewasa berusia lanjut yang berisiko tinggi yang mengalami salah satu dari gejala dan tanda-tanda yang telah disebutkan di atas. Selain itu, anda juga harus mencari bantuan medis bila anak anda mengalami kesulitan untuk bernapas, demam dengan suhu tinggi atau kulitnya berubah menjadi kebiruan.

PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSIS
Dokter anda mungkin akan mencurigai adanya infeksi RSV berdasarkan pemeriksaan fisik dan pertimbangan waktu saat infeksi ini mungkin terjadi. Selama pemeriksaan, ia mungkin akan mendengarkan suara di paru-paru dengan stetoskop untuk memeriksa adanya suara ngik atau adanya suara-suara yang abnormal, yang dapat membantu untuk menentukan adanya kesulitan untuk bernapas. Sebuah tes di kulit yang tidak menyakitkan akan dilakukan untuk mengecek apakah tingkat oksigen yang erdapat dalam aliran darah lebih rendah dari yang seharusnya. Dokter anda mungkin juga akan melakukan tes darah untuk memeriksa hitungan sel darah putih atau untuk melihat adanya virus, bakteri atau organisme lainnya.
Pemeriksaan rongga dada dengan sinar X mungkin akan dilakukan untuk memeriksa adanya radang paru (pneumonia). Sebagai tambahan, dokter anda mungkin juga akan mengambil cairan di saluran pernapasan dari hidung anda untuk melihat adanya virus melalui pemeriksaan di lab.
KOMPLIKASI
RSV adalah penyebab paling utama terjadi penyakit saluran pernapasan pada bayi dan anak-anak. Tapi infeksi virus ini dapat menyebabkan akibat yang serius-terutama pada anak-anak yang berusia lebih muda dari 6 bulan, bayi-bayi yang lahir prematur, dan bayi-bayi yang memiliki kelainan bawaan pada jantung dan paru-parunya.
Setiap tahun, ada 125.000 anak di Amerika Serikat yang masuk rumah sakit karena serangan RSV yang parah, dan ada sejumlah anak dalam presentase kecil yang kecil meninggal karena infeksi ini.Pada bayi dan anak-anak yang baru pertam kali mangalami infeksi ini,banyak juga yang mengalami gejala bronchiolotis dan radang paru.Radang saluran tengah – yang terjadi saat ada bakteri yang masuk ke daerah di belakang gendang telinga – adalah salah satu komplikasi yang mungkin akan terjadi.Kemungkinan timbulnya penyakit asma di kemudian hari.
Begitu seseorang terinfeksi RSV,maka bukan yang luar biasa bila sepanjang hidupnya orang tersebut akan terkena infeksi RSV lagi.Infeksi yang berkelanjutan biasanya tidak parah, tapi irang-orang dewasa berusia lanjut atau orang-orang yang menderita penyakit jantung dan paru kronis, infeksi ini dapat menyebabkan sesuatu yang serius dan pada kasusu-kasus tertentu, berakibat fatal.
PERAWATAN
Penggunaan antibiotik, yang diresepkan oleh dokter untuk mengobati infeksi bakteri, tidak berguna untuk mengobati RSV karena RSV disebabkan oleh infeksi virus. Meskipun demikian, dokter anda mungkin akan tetap memberikan antibiotic bila terjadi komplikasi bakteri, seperti infeksi di telinga bagian tengah, atau radang paru karena bakteri. Bila tidak ada komplikasi, maka dokter anda mungkin akan merekomendasikan obat-obatan yang dapat dibeli secara bebas seperti asetaminofen (Tylenol, dll) atau ibuprofen (Advil, Motrin, dll), yang dapat mengurangi demam tapi tidak dapat mengobati infeksi tersebut sembuh lebih cepat.
Pada kasus infeksi berat, penderita mungkin perlu dirawat di rumah sakit agar dapat diberikan cairan melalui vena (infus) dan oksigen. Bayi dan anak-anak yang dirawat di rumah sakit mungkin perlu menggunakan ventilasi mekanik-sebuah alat Bantu pernapasan- agar dapat memudahkan mereka untuk bernapas.
Pada kasus-kasus infeksi RSV yang parah, bronkodilator untuk nebulasi seperti albuterol (Proventil, Ventolin) dapat digunakan untuk melegakan napas. Pengobatan ini dilakukan untuk membuka saluran pernapasan di paru-paru. Nebulasi maksudnya obat diberikan dalam bentuk uap yang dapat dihirup. Kadang-kadang, ribavirin (Rebetol) dalam bentuk nebulasi, sebagai obat antivirus, mungkin dapat diberikan. Dokter anda juga mungkin merekomendasikan suntikan epinephrine atau bentuk lain dari epinephrine yang dapat diinhalasi dengan alat nebulasi (racenic epinephrine) u tuk mengurangi gejala yang timbul dari infeksi RSV.

PENCEGAHAN
Tidak ada vaksin untuk mencegah terjadinya infeksi RSV. Tapi bila kita bertindak secara rasional dan berhati-hati, kita dapat mencegah tersebarnya infeksi virus ini :
1.      Sering-sering mencuci tangan. Lakukan hal tersebut terutama sebelum anda menyentuh anak anda, dan ajarkan pada anak-anak anda pentingnya mencuci tangan.
2.      Hindari paparan terhadap infeksi RSV. Batasi kontak antara bayi anda dengan orang-orang yang sedang mengalami demam dan selesma.
3.      Jagalah kebersihan. Pastikan agar rak-rak selalu dalam keadaan bersih terutama rak yang terdapat di dapur dan kamar mandi, terutama bila ada anggota keluarga yang sedang selesma. Segera buang tisu bekas pakai.
4.      Jangan menggunakan gelas yang sudah digunakan oleh orang lain. Gunakan gelas anda sendiri atau gunakan gelas sekali pakai bila anda atau orang lain sedang sakit.
5.      Jangan merokok. Bayi yang terkena paparan tembakau memiliki resiko lebih tinggi terkena infeksi RSV dan berpotensi lebih besar terkena gejala yang lebih parah.
 Cuci boneka secara rutin. Lakukan pencucian terutama bila anak anda atau kawan bermain anak anda sedang sakit.
Masa inkubasi (waktu infeksi sampai permulaan gejala) jarak dari beberapa hari sampai beberapa minggu tergantung dari mudahnya infeksi bronkhiolitis.
DURASI
Yang khas pada penyakit bronkhiolitis berakhir selama 7 hari, tetapi pada anak-anak dengan penyakit berat dapat batuk sampai beberapa minggu. Pada umumnya puncak penyakit terjadi pada hari kedua sampai ketiga setelah anak batuk dan sulit bernapas dan berangsur-angsur pulih.

PENGOBATAN SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN
Sebagai tambahan, ada obat yang disebut palivisumab (Synagis) yang dapat membantu melindungi anak-anak berusia kurang dari 2 tahun yang memiliki resiko mengalami komplikasi serius bila mereka terjangkit RSV,seperti anak-anak yang terlahir premature atau anak-anak yang memiliki kelainan jantung atau paru bawaan.
Synagis bekerja dengan menyediakan antibody yang diperlukan untuk melindungi tuguh dari RSV.Diperlukan satu kali suntikan tiap bulan yang disuntikkan ke dalam otot pada bagian paha setiap puncak musim RSV,yang dimulai pada musim gugur dan dilakukan secara terus menerus selama lima bulan . Suntikan ini diulangi lagi setiap tahun hingga si anak tidak lagi dalama kondisi yang berisiko tinggi.Pemberian obat tidak akan mempengaruhi jadwal vaksinasi anak.Penggunaan terapi seperti ini mengurangi frekwensi dan lama perawatan di rumah karena infeksi RSV. Tapi karena biayanya yang tinggi penggunaan pengobatan seperti ini dibatasi hanya pada mereka yang memiliki resiko paling tinggi mengalami komplikasi karena infeksi RSV. Pengobatan ni tidak akan berguna untuk mengobati infeksi RSV yang sudah terjadi. Diskusikan dengan dokter anda bila menurut anda memerlukan terapi obat seperti ini.
Para ilmuwan tengah bekerja untuk menemukan vaksin yang dapat mencegah terjadinya infeksi RSV tidak hanya kepada bayi tapi juga pada orang dewasa dan orang dewasa yang berisiko tinggi.

PERAWATAN DI RUMAH
Anda mungkin tidak dapat mengurangi lamanya infeksi RSV, taapi anda dapat mencoba untuk mengurangi tanda-tanda dan gejalanya.
Bila anak anda mengalami infeksi, lakukan yang terbaik yang dapat anda lakukan untuk menyamankan atau mengalihkan perhatiannya-peluk dia, bacakan buku atau bermain dengan tenang. Berikut ini ada beberapa kiat yang dapat anda gunakan untuk meredakan gejala RSV :
Ciptakan udara yang lembab untuk dihirup. Buat agar ruangan atau kamar anak anda dalam keadaan hangat tapi tidak terlalu panas Bila udaranya kering, gunakan pelembab ruangan (humidifier) atau vaporizer yang dapat melembabkan udara dan membantu melegakan napas dan batuk. Yakinkan agar alat pelembab udara dalam keadaan kering untuk mencegah timbulnya bakteri dan kuman.
Duduk dengan posisi tegak. Duduk dengan posisi tegak dapat membuat bernapas lebih mudah. Menempatkan bayi anda di carseat mungkin akan dapat membantu.
Minum cairan. Cairan hangat, seperti sup kegemaran anak anda, mungkin dapat melegakan dan membantu dan mengencerkan dahak yang mengental. Bila anak anda suka es loli, sekarang adalah waktu yang terbaik untuk memberikan makanan spesial yang dingin.
Coba berikan tetesan larutan garam. Larutan garam yang dijual bebas cukup aman dan efektif untuk melegakan hidung yang mampet, bahkan untuk anak-anak. Berikan beberapa tetes di setiap lubang hidung untuk mengencerkan lender yang mengental, lalu segera sedot lubang yang telah ditetesi larutan garam tadi, dengan menggunakan alat khusus yang bentuknya seperti pipet. Ulangi proses yang sama untuk lubang hidung yang satu lagi.
Gunakan obat penghilang rasas sakit yang dijual bebas. Obat pereda rasas sakit yang dijual bebas seperti asetaminofen (Tylenol, dll) mungkin dapat mengurangi demam, meredakan tenggorokan yang sakit dan meningkatkan kemampuan anak untuk minum cairan.
Kurangi atau hilangkan paparan terhadap asap rokok. Menjauhlah dari asap rokok karena asap rokok dapat memperburuk gejala yang ada.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA GANGGUAN SISTEM PERNAFASAN
DENGAN BRONCHIOLITIS

PENDAHULUAN
Bronchiolitis adalah suatu inflamasi infeksi virus pada bronkiolus, yang menyebabkan obstruksi akut jalan nafas dan penurunan pertukaran gas dalam alveoli. Lebih sering disebabkan oleh respiratory syncytial virus (RSV), gangguan ini biasanya terjadi pada anak usia 2 sampai 12 bulan, terutama selama musim dingin dan awal musim semi.
Infeksi ditandai adanya edema mukosa, peningkatan sekresi mukus, obstruksi bronkiolus, dan peregangan yang berlebihan dari alveoli. Kemungkinan komplikasi dari gangguan ini mencakup penyakt paru kronik dan bahkan menyebabkan kematian.
PENGKAJIAN
Pernafasan

1.      Takipnea
2.      Retraksi
3.      Nasal flaring
4.      Dispea
5.      Pernafasan dangkal
6.      Penurunan bunyi nafas
7.      Crakel
8.      Wheezing
9.      Ekspirasi yang memanjang
10.  Batuk
Kardiovaskuler
• Takipnea
Neurologis
• Iritabilitas
• Kesulitan tidur
Gastrointestinal
• Kesulitan makan
Integumen
• Peningkatan temperature
• Sianosis
Psikososial
• Cemas
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan edema bronkial dan peningkatan produksi mucus
Hasil yang diharapkan
Anak akan meningkat petukaran gas yang ditandai bernafas secara mudah dan warna kulit merah muda.
Intervensi
1. Ciptakan lingkungan dengan tinggi kelembabannya dengan cara menempatkan anak dalam tenda lembab atau alat dengan humidifikasi yang dingin.
2. Berikan oksigen melalui sungkup muka, kanule hidung, atau oksigen tenda, sesuai petunjuk.
3. Posisikan anak dengan kepala dan dada lebih tinggi dan leher agak enstensi.
4. Lakukan fisioterapi dada setiap 4 jam, atau sesuai petunjuk.
5. Berikan bronkodilator sesuai petunjuk
6. Lakukan pengisapan lendir sesuai kebutuhan untun mengeluarkan secret
7. berikan obat antivirus sesuai petunjuk.
8. Berikan istirahat yang adekuat dengan mengurangi kegaduhan dan pencahayaan dan berikan kehangatan dan kenyamanan
9. Kaji frekuensi pernafasan anak dan iramanya setiap jam. Jika anak mengalami gangguan pernafasan, auskultasi bunyi nafas, lakukan fisioterapi dada, dan informasikan pengobatan pernafasan
10. monitor denyut apikal pada anak; jika mendeteksi adanya takikardia (dasarkan pada usia anak), laporkan pada dokter kejadian tersebut
Rasional
1. Kelembaban yang dingin dari tenda atau Croupette akan membantu mengencerkan lendir dan mengurangi edema bronkiolus
2. Oksigen akan membantu mengurangi kegelisahan berhubungan dengan kesukaran pernafasan dan hipoksia
3. Posisi ini mempertahankan terbukanya jalan nafas dan memudahkan respirasi oleh karena menurnnya tekanan diaphragm
4. Fisoterapi dada membantu menghilangkan dan mengeluarkan mukus yang dapat menghambat jalan nafas yang lebih kecil
5. Walaupun sering digunakan untuk menangani spasme otot, bronkodilator juga secara efektif mengobatan edema bronkiolus
6. Mengeluarkan lendir akan membantu membersihkan bronkiolus, akan meningkat pertukaran gas.
7. Obat anti virus, seperti respiratory syncytial virus immune globulin (RespiGam), digunakan untuk pengobati RSV, ribavirin (Virasole) juga digunakan, walaupun kemanjuran dapat dipertanyakan.
8. Meningkatkan istirahat akan mengurangi kesukaran pernafasan yang berhubungan dengan bronkiolitis.
9. Pengkajian yang sering akan menjamin fungsi pernafasan yang adekuat.
10. Takikardia dapat disebabkan adanya hipoksia atau pengaruh penggunaan bronkodilator.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Risiko penurunan volume cairan berhubunga dengan kehilangan cairan melalui ekshalasi dan penurunan asupan cairan.
Hasil yang diharapkan
1.      Berikan cairan melalui infus sesuai petunjuk
2.      Yakinkan bahwa anak istirahat adekuat
3.      monitor asupan cairan pada anak dan luaran cairan secara hati-hati
4.      Kaji tanda-tanda dehidrasi, termasuk kehilangan berat badan, pucat, turgor kulit jelek, membran mukosa kering, oliguria, dan peningkatan frekuensi nadi.
5.      Tingkatkan asupan cairan melalui mulut saat serangan akut terjadi.

Rasional
1.      Cairan via I.V. digunakan untuk hidrasi hingga anak melewati saat kritis.
2.      Istirahat memungkinkan frekuensi pernafasan anak kembali pada batas normal, akan mengurangi jumlah kehilangan cairan melalui ekshalasi
3.      Hati-hati melakukan monitoring yang menjamin hidrasi adekuat. Jika haluaran urine berkurang, anak dapat dipertimbangkan untuk penambahan cairan
4.      Tanda-tanda ini menunjukkan bahwa anak tidak menerima cairan yang cukup.
5.      Cairan membantu mengencerkan lendir.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Hipertermi berhubungan dengan infeksi

Hasil yang diharapkan
Anak akan mempertahankan temperatur tubuhnya kurang dari 100º F (37,8ºC). (Temperatur secara khusus bergantung pada metoda yang digunakan dalam pengambilan temperatur).

Intervensi
1. Pertahankan lingkungan yang sejuk melalui penggunaan piyama sinar kuat dan selimut dan pertahankan temperatur ruangan antara 72º dan 75ºF (22º dan 24º C).
2. Berikan antipiretik sesuai petunjuk.
3. monitor temperatur anak setiap 1 sampai 2 jam bila terjadi peningkatan secara tiba-tiba
4. Berikan antimikroba, jika disarankan
5. Berikan kompres pada anak (98,6º F [37ºC]) guna menurunkan demam

Rasional
1. Lingkungan yang sejuk akan membantu menurunkan temperatur tubuh melalui kehilangan panas melalui radiasi.
2. Antipiretika seperti acetaminophen (Tyleno), efektif menurunkan demam
3. Peningkatan temperatur secara tiba-tiba akan mengakibatkan kejang-kejang
4. Antimikroba sesuai dengan petunjuk guna mengobati organisma penyebab. Antibiotik biasanya tidak disarnkan untuk mengobati RSV.
5. Kompres air efektif menyebabkan tubuh menjadi dingin melalui peristiwa konduksi.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Isolasi sosial berhubungan dengan pencegahan isolasi

Hasil yang diharapkan
Anak akan mempertahankan kontak sosial walaupun ia diisolasi akibat kondisi pernafasan
Intervensi
1. Jelaskan pada anak (jika perlu) dan orang tua tujuan dan sifat isolasi, termasuk detail tentang hal disekitar yang kurang familiar dan gunakan masker dan celemek.
2. Perkenalkan diri anda saat masuk kedalam ruang anak.
3. Ajarkan orang tua dan anak (jika perlu) bagaimana menggunakan call system.
4. Kaji anak setiap jam untuk mengetahui perobahan yang terkadi pada kondisi anak
5. Jika perlu, berikan aktifitas yang bervariasi, seperti permainan, baca buku, televisi, dan musik. Jika anak menerima oksigen, hindari permainan yang dapat menimbulkan cetusan listrik (contoh berbagai permainan yang menggunakan elektronik)
6. Anjurkan orang tua untuk ikut serta mengambil bagian dalam perawatan anak.

Rasional
1. Penjelasan diperlukan guna menghindari ketakutan pada anak
2. Anak dan orang tua sering kesulitan membedakan petugas karena penggunaan pakaian isolasi.
3. Call system memungkinkan keluarga berkomunikasi untuk meminta bantuan
4. Kebutuhan anak untuk monitoring secara ketat guna mendeteksi perubahan perlu difikirkan dalam ruang isolasi
5. Aktifitas yang bervariasi memungkinkan anak terstimulasi dan tertarik selama diisolasi. Permainan dengan alat-alat elektronik dan mengakibatkan bahaya kebakaran
6. Orang tua merupakan sumber-sumber utama sosialisasi pada anak yang diisolasi.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Kelelahan berhubungan dengan gangguan pernafasan

Hasil yang diharapkan
Anak akan isitirahat paling sedikit 1 jam pada pagi dan siang hari

Intervensi
1. Membantu menurunkan kelelahan pada anak, berikan istirahat secara teratur setiap 2 jam. Juga mengganti seprei saat anak mandi, dan lakukan pengkajian neurologis selama kunjungan guna mencegah istirahat yang terganggu.
2. Ciptakan lngkungan yang tenang.

Rasional
1. Kebutuhan istirahat anak yang adekuat mencegah kelelahan akibat peningkatan gangguan pernafasan
2. Kegaduhan yang tidak dikehendaki dan aktifitas yang menyebabkan kelelahan pada anak akan meningkatkan terjadinya gangguan pernafasan

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik.

Hasil yang diharapkan
Anak akan meningkat asupan nutrisi ditandai dengan anak mengkonsumsi paling sedikit 80 % pada setiap kali makan

Intervensi
1.      Berikan makan sedikit, tapi sering pada makanan yang dapat diterima anak.
2.      Berikan diet tinggi kalori dan protein.

Rasional
1. Makan yang sedikit tapi sering memerlukan sedikit pengeluaran energi dan penggunaan pernafasan. Anak makan banyak pada setiap kali makan termasuk makanan kesukaannya.
2. Diet tinggi protein,tinggi kalori diperlukan anak untuk meningkatkan kebutuhan metabolik.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Kecemasan (anak dan orang tua) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang kondisi anak.

Hasil yang diharapkan
Anak dan orang tua akan berkurang kecemasannya yang ditandai mengekspresikan pemahamannnya tentang kondisi anak.

Intervensi
1. Kaji pengetahuan orang tua dan (jika perlu) anak tentang kondisi anak dan program pengobatan yang diberikan.
2. Dorong orang tua tinggal bersama anak
3. Jelaskan semua prosedur sesuai dengan perkembangan anak
4. Berikan dukungan emosional pada orang tua selama tinggal dirumah sakit.

Rasional
1. Pengkajian sebagai dasar memulai pengajaran.
2. Tinggal bersama dengan anak memungkinkan orang tua memberikan dukungan dan membantu mengurangi kecemasan pada keduanya yaitu anak dan orang tua.
3. Memberikan penjelasan sebelum prosedur dan selama tinggal di rumah sakit akan menurunkan kecemasan akibat kesalahan pemahaman dan kuirangnya pengetahuan.
4. Hospitalisasi menimbulkan krisis situasi. Mendengarkan perhatian orang tua serta perasannnya akan membantu dia untuk menangani krisis yang dialami

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan perawatan dirumah.

Hasil yang diharapkan
Orang tua akan mengekspresikan pemahamannya tentang pentunjuk perawatan dirumah.

Intervensi
1. Ajarkan orang tua dan anak (jika perlu) bagaimana dan kapan pemberian pengobatan, termasuk uraian tentang dosis dan reaksi nya.
2. Jelaskan tanda tanda dan gejala-gejala kesukaran pernafasan dan infeksi, termasuk demam, dispnea, takipnea, perubahan warna sputum, dan adanya wheezing.
3. Jelaskan pentingnya istirahat yang adekuat pada anak.
4. Ajarkan perlunya nutrisi yang adekuat dan hidrasi, tekankan pada kebutuhan cairan yang cukup dan diet tinggi kalori.
5. Ajarkan perlunya menciptakan lingkungan yang lembab dan sejuk.

Rasional
1. Pemahaman diperlukan untuk mempertahankan program pengobatan yang teraur yang dapat membantu orang tua berada dengan anak selama pengobatan. Mengetahui akibat lanjut pengobatan diharapkan orang tua segera meminta bantua seuai kebutuhan.
2. Pengetahuan yang tepat pada orang tua akan memberikan perhatian pada saran dokter saat diperlukan
3. Setelah infeksi,anak akan isitirahat secara teratur merupakan alat untuk kembali pulih dan mencegah kambuhnya infeksi.
4. Pemberian cairan akan mengencerkan lendir. Diet tinggi kalori akan membantu mengembalikan kalori yang diperlukan dalam melawan penyakit.
5. Udara yang lembab membantu mengencerkan lendir. Uidara yang lembab dan sejuk yang berasal dari tenda yang terpasang pada anak akan menjamin penguapan dan udara yang hangat, yang dapat menyebabkan kebakaran.




Sumber bahan bacaan:
1.Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak 3, FKUI. 1995.
3.www.terbit@harianterbit.com / 2006
4.Kapita Selekta Kedokteran, Edisi Ketiga, Jilid 2, Penerbit Media Aesculapius, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
5.Elana Pearl Ben-Joseph, MD Originallyreviewed by: And Steven Dowshen. MD, Date reviewed: May 2004
6.www.Google.com/Bronchiolitis in Childreen-Keep Kids Healthy.htm.
7.www.eMedicine-Pediatrics, BronchiolitisArticle by Mark Louden, MD. FACEP.htm
8.Lucian K. DeNicola,M.D. and Michael O. Gayle, M.D. are with the Division of pediatric Critical Care Medicine at the University of Florida Health Science Center / Jacksonville.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar