Minggu, 01 Januari 2012

askep hemoroid




BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang


Hemoroid dikenal di masyarakat sebagai penyakit wasir atau ambeien merupakan penyakit yang sering dijumpai dan telah ada sejak jaman dahulu. Namun masih banyak masyarakat yang belum mengerti bahkan tidak tahu mengenai gejala-gejala yang timbul dari penyakit ini. Banyak orang awam tidak mengerti daerah anorektal (anus dan rektum) dan penyakit-penyakit umum yang berhubungan dengannya. Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan dimana limbah berupa tinja keluar dari dalam tubuh.  Sedangkan rektum merupakan bagian dari saluran pencernaan di atas anus, dimana tinja disimpan sebelum dikeluarkan dari tubuh melalui anus. Sepuluh juta orang di Amerika dilaporkan menderita hemoroid dengan prevalensi lebih dari 4 % (Probosuseno, 2009).
Penelitian menunjukkan bahwa ada 1,5 juta resep untuk penyakit hemoroid setiap tahunnya dan disebutkan pula bahwa dari tahun ke tahun, jumlah penderita hemoroid yang menjalani rawat inap di rumah sakit semakin berkurang. Berdasarkan statistik, jumlah tindakan hemoroidektomi menurun. Pada tahun 1974 merupakan puncak dimana hemoroidektomi dilakukan pada sebanyak 117 per 100.000 orang. Angka itu menurun 13 tahun kemudian (1987) yaitu menjadi 37 per 100.000 orang. Hemoroid dapat menyerang padalaki-laki maupun perempuan. Di sisi lain, resiko hemoroid justru meningkatseiring bertambahnya usia. Usia puncak adalah 45-65 tahun (Probosuseno, 2009).
Probosuseno juga menjelaskan, semua orang dapat terkena wasir. Namun yang paling sering adalah multipara (pernah melahirkan anak lebih dari sekali). Insidensinya sekitar 5-35 % dari masyarakat umum dan terutama yang berusia lebih dari 25 tahun, dan jarang terjadi di bawah usia 20 tahun kecuali wanita hamil. Wasir (hemorrhoid) pada ibu hamil umumnya terjadi akibat tekanan mendesak dari pertumbuhan janin pada vena hemorrhoid. Perlu diketahui bahwa ibu hamil sangat rentan menderita wasir karena meningkatnya kadar hormon seks wanita, yang melemahkan dinding vena dibagian anus. Banyak ibu hamil yang menderita wasir setelah 6 bulan usia kehamilan karena adanya peningkatan tekanan vena dalam area panggul. Beberapa wanita juga mengalami wasir selama persalinan akibat tekanan bayi yang kuat. Komplikasi setelah melahirkan juga memicu terjadinya wasir (Probosuseno, 2009).
Hemoroid atau “wasir” merupakan vena varikosa pada kanalis dan dibagi menjadi 2 jenis yaitu, hemorroid interna dan eksterna. Kedua jenis hemoroid ini sangat sering dijumpai dan terjadi sekitar 35% penduduk berusia lebih dari 25 tahun. Walaupun keadaan ini tidak mengancam jiwa, namun dapat menimbulkan perasaan yang tidak nyaman. Hemoroid atau wasir memang menjadi momok bagi sebagian orang yang menderitanya. Benjolan didalam anus sangat membuat rasa tidak nyaman, baik untuk posisi duduk maupun berdiri. Apalagi kalau hendak buang hajat (BAB), seseorang sering meringis kesakitan.

1.2    Tujuan

1.2.1    Tujuan Umum
             
              Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran dan penatalaksanaan perawat pada kasus hemoroid di RS Muhammadiyah Palembang

1.2.2    Tujuan Khusus
              Makalah ini dibuat untuk mengidentifikasi penulisan Asuhan Keperawatan pada An. ”S” dengan hemoroid di Ruang Anak RS. Muhammadiyah dimulai dari pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan, dan evaluasi keperawatan yang meliputi:
a. Melakukan pengkajian pada pasien hemoroid
b. Menegakkan diagnosa keperawatan pada pasien hemoroid
c. Merumuskan intervensi keperawatan dan Implementasi pada pasien hemoroid
d. Evaluasi tindakan yang muncul

1.3    Tempat dan Waktu
1.3.1        Tempat
Penelitian ini dilakukan di ruang Anak  RS. Muhammadiyah Palembang

1.3.2        Waktu
Waktu pengkajian dimulai dari tanggal 22 – 27 November 2010

1.4    Manfaat
1.4.1 Manfaat Teoritis
Menambah ilmu terutama dalam kesehatan masyarakat yang berhubungan dengan hemoroid dan memperbaharui teori yang ada tentang hemoroid (ambeien/ wasir).

1.4.2 Manfaat Praktis
            Untuk memperoleh pengalaman dalam hal mengadakan seminar sehingga penulis terpacu untuk meningkatkan potensi diri sehubungan dengan pengetahuan tentang hemoroid.




BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Konsep Penyakit
2.1.1  Defenisi Hemorroid

         Hemorroid adalah pelebaran vena (varises) di dalam plexus hemoroidalis yang bukan merupakan keadaan patologik (Syamsuhidajat, 1997)
            Hemorroid adalah varises vena eksternal dan atau internal dari kanal anus yang disebabkan oleh adanya tekanan pada vena anorektal. Hemorroid adalah pelebaran (dilatasi) vena pada anus maupun rektal (Brunner & Suddart, 2001)
                                                                                              
2.1.2  Etiologi
            Yang mempengaruhi terjadinya pelebaran pleksus hemoroidalis dibagi menjadi dua :
1.      Bendungan sirkulasi pada portal akibat kelainan organik seperti :
a.       hepar sirosis hepatis
fibrosis jaringan hepar akan meningkatkan resistensi aliran vena ke hepar sehingga terjadi hepartensi portal. Maka akan terbentuk kolateral antara lain ke esofagus dan pleksus hemoroidalis.
b.      bendungan vena porta misalnya karena trombosis
c.       tumor intra abdomen, terutama di daerah velvis, yang menekan vena sehingga alirannya terganggu misalnya tumor ovarium, tumor rektal, dll.
2.      Idiopatik tidak jelas adanya kelainan organik hanya ada faktor-faktor yang mungkin menjadi penyebab timbulnya hemorrhoid seperti:
a.         keturunan atau herediter. Dalam hal ini yang menurun adalah kelemahan dinding pembuluh darah dan bukan hemorrhoidnya.
b.         Peningkatan tekanan intra abdomen, pada orang yang pekerjaannya banyak berdiri atau duduk dimana gaya gravitasi akan mempengaruhi timbulnya hemorrhoid.
c.         Diare

2.1.3        Anatomi dan Fisiologi
          
         Rektum adalah bagian terminal dari intestinum crasum yang merupakan kelanjutan dari colon sigmoid. Mukosa rektum mempunyai kelanjutan dari colon sigmoideum. Mukosa rektum mempunyai persyarafan otonom dan tidak peka terhadap nyeri ( Budianto, 2004 ; syamsuhidajat, 1997).
            Di anus terdapat otot-otot sphincter yang mengatur kontraksinya antara lain m. levator ani, m sphincter ani internus dan m sphincnter ani ekternus. Rektum mendapat vascularisasi dari a. rectalis superior cabang a mesentarica inferior, a rectalis media cabang a. hipogastrica dan a. rectalis inferior cabang a. pudenda interna. Sedangkan aliran darah balik rektum terdiri dari dua vena, yaitu V. Hemorodialis supeiro roidalis internus dan berjalan ke arah cranial ke dalam V. Mesenterica inferior dan seterusnya. Melalui v. linealis ke v. porta. Vena ini tidak berkatub sehingga tekanan rongga abdomen menentukan tekanan di dalamnya. V hemoradialis inferior mengalirkan darah ke dalam v. pudenda interna dan ke dalam v. illiaca interna dan sistem cava. Pembesaran v. hemoradialis dapat menimbulkan keluhan hemorroid (Faradilah, Firman & Anita, 2000; Syamsuhidajat, 1997). 

2.1.4 Manifestasi Klinis
            Tanda dan gejala yang sering timbul adalah :
1. Bengkak (bendungan) di dalam atau diluar rectum.
2. Nyeri.
3. Gatal daerah rectum.
4. Gangguan mukosa rectum.
5. Perdarahan pada saat
BAB

2.1.5 Pemeriksaan penunjang
a. pemeriksaan laboratorium
-        Eritrosit
-        Leukosit
-        Led
-        Hb
b. pemeriksaan diagnostik
-        Protoskopy
-        Anuscopy
-        Sigmoideskopy





2.1.6        Patoflow


              Konstipasi

Gangguan aliran balik dari vena

Kongesti vena hemoroidalis

Pelebaran vena yang bersangkutan

                  Pendarahan                                                      krisis situasi






Rounded Rectangle: Anxietas

Rounded Rectangle: Kerusakan integritas
kulit

 

                                                                                         
     hemoroidectomy


 

port D’entry                                                              terputusnya kontunitas
mikroorganisme                                                          jaringan

media berkembang                                                menstimulasi reseptor nyeri
mikroorganisme                                         (bradikinin & prostaglandin)

resti infeksi                                                                                    afferent

                                                                                            medulla spinalis


 

                                                                                                      thalamus

                                                                                               korteks serebri

                                                                                                      afferent







Rounded Rectangle: intoleransi aktivitas

 

Rounded Rectangle: nyeri                                                                                                       
                       




2.2  KONSEP KEPERAWATAN
2.2.1  Pengkajian
a.       Aktivitas / istirahat
S : riwayat pekerjaan mengangkat beban berat, berdiri lama
O : - penurunan rentang gerak dan ekstremitas pada salah satu bagian tubuh
                  - tidak mampu melakukan aktivitas yang biasanya.
b.      Eliminasi
S : konstipasi yang lama
O : retensi urine
c.       Integritas Ego
S : ketakutan akan timbulnya masalah finansial keluarga, hubungan dan gaya hidup.
O : cemas, depresi, menghindar dari keluarga
d.      Keamanan
Alergi terhadap obat dan makanan, plester, larutan desinfektan.


2.2.2         Diagnosa Keperawatan, intervensi dan Rasional

PRE OPERATIF

1.      Gangguan rasa nyaman b.d. adanya benjolan di daerah anus, terasa nyeri dan gatal
Kriteria hasil :
-     Terpenuhinya rasa nyaman
-     Nyeri berkurang
-     Rasa gatal berkurang

No
Intervesi
Rasional
1
Perbaiki personal hygiene
Memberikan kenyamanan dan kesegaran pasien
2
Memberikan posisi recumben
Untuk mengurangi penekanan, edema dan prolaps
3
Berikan rendam bubur dengan salep / larutan permangan 1 / 1000 % pagi dan sore
Menurunkan ketidaknyamanan lokal, menurunkan edema dan meningkatkan penyembuhan
4
Kompres dingin pada saat nyeri
Mengurangi nyeri dan rasa panas pada hemorrhoid
5
Anjurkan tirah baring
Untuk mengurangi pembesaran hemorrhoid

2.      Potensial konstipasi b.d mengabaikan dorongan untuk defekasi akibat nyeri selama eliminasi dan takut terjadi perdarahan.
Tujuan : tidak terjadi konstipasi
Kriteria hasil :
-      Pasien menyatakan tidak takut melakukan defekasi
-      Pola BAB normal

No
Intervensi
Rasional
1
Berikan diet tinggi serat yang mengandung buah dan sekam
Agar feses tidak terlalu padat dan pola BAB tetap normal
2
Tingkatkan pemasukan cairan
Agar feswes dapat lebih lunak
3
Berikan pelicin pada defekasi yang terlalu keras
Pelicin dapat membantu memudahkan pengeluaran feses
        
POST OPERATIF

3.      Gangguan rasa nyaman (nyeri) pada luka operasi b.d adanya jahitan pada luka operasi
Tujuan : terpenuhinya rasa nyaman
Kriteria hasil :
-     Tidak ada / terdapat rasa nyeri
-     Pasien dapat melakukan aktivitas

No
Intervensi
Rasional
1
Beri posisi tidur yang menyenangkan pasien
Dapat menurunkan tegangan abdomen dan meningkatkan rasa kontrol
2
Ganti balutan setiap pagi sesuai teknik aseptic
Melindungi pasien dari kontaminasi silang selama penggantian balut
3
Latihan jalan sedini mungkin
Dapat menurunkan masalah yang terladi karena imobilisasi
4
Obsevasi daerah rektal apakah ada pendarahan 
Pendarahan pada jaringan inflamasi lokal atau terjadi infeksi dapat meningkatkan rasa nyeri






BAB III
TINJAUAN KASUS DAN ASKEP

3.1    Pengkajian

I.         Identitas
Inisial Nama                     : “S”
Jenis Kelamin                   : Laki – laki
Tempat / tgl. Lahir           : 4 Januari 1996
Usia                                  : 9 tahun
Agama                              : Islam
Nama ayah / ibu               : Mesra
Pekerjaan Ayah                : Tani
Pekerjaan Ibu                   : Tani
Pendidikan Ayah             : SMP
Pendidikan Ibu                : tidak tamat SD
Alamat                             : Dusun 1. Talang Lubuk RT 3 Muara Telam
Suku Bangsa                    : Melayu

II.      Riwayat Keperawatan
a)    Keluhan Utama ( SMRS)
   Keluarga mengatakan pasien mengalami pendarahan segar saat defekasi

b)   Keluhan Utama ( saat pengkajian)
Pre Operasi                  : Ada benjolan dianus sebesar
Post Operasi    : nyeri pada luka operasi

c)    Klien datang ke RS dengan keluhan pendarahan saat defekasi selama 3 hari. Sebelumnya  keluarga mengatakan tidak ada keluhan apapun seperti nyeri yang dirasakan klien. Keluar ga mengatakan keluhan pasien hanya batuk dan pilek itu pun hanya 3 hari kemudian sembuh. Ibu klien mengatakan terdapat benjolan pada anus sejak klien berumur 3 tahun.

Riwayat kehamilan dan kelahiran anak
Prenatal           : Baik
Internal            : Baik
Postnatal          : Baik

d)   Riwayat Masa Lampau
1.    Penyakit Waktu Kecil                   :  Tidak ada
2.    Pernah dirawat di Rs                     : Tidak ada
3.    Obat – obatan yang digunakan     : Tidak ada
4.     Tindakan (operasi)                        : Tidak ada
5.    Alergi                                            : Tidak ada
6.    Kecelakaan                                    : Tidak ada
7.    Imunisasi                                       : BCG


e)    Riwayat Keluarga
Genogram


 









Keterangan :










 

                             : menikah                                                    : perempuan







 

                             : laki-laki                                                    : perempuan meninggal


 

                             : laki-laki meninggal                                  
                                                                                                : tinggal se rumah
                             : klien laki-laki

f)    Riwayat Sosial
Yang mengasuh                                         : Orang tua
Hubungan dengan anggota keluarga         : Baik
Hubungan dengan teman sebaya              : Baik
Pembawaan secara umum                         : Pendiam dan pemalu

III.                  KEBUTUHAN DASAR

No
Kebutuhan sehari - hari
Saat dirumah sakit
Saat dirumah
1
Kebutuhan nutrisi dan cairan
Makanan yang disukai
Selera makan

Alat yang digunakan
Pola makan
Porsi makan yang dihabiskan
Pola minum


Makanan ringan : cemilan
Baik : menghabiskan porsi makan yang disediakan Rs

3x / hari


Tidak mencapai  2 liter / hari


Makanan Ringan : cemilan
Baik

3x / hari


Tidak mencapai  2 liter / hari


2
Kebutuhan istirahat dan tidur
Kebiasaan sebelum tidur


Kebiasaan tidur siang
Pasien tidur  10 – 12 jam / hari
Sebelum tidur malam, klien dibacakan cerita oleh ayahnya.
-
Pasien tidur 8 – 9 jam / hari
Klien dapat langsung tidur tanpa perlu bacaan, mainan atau benda apapun
Pasien terbiasa tidur siang selama 1 jam setelah pulang sekolah

3
Pola Eliminasi
BAB
Warna                :
Konsistensi        :
Frekuensi           :

BAK
warna
konsistensi
frekuensi




Kuning pucat
Padat
Hanya 1 x selama 2 hari


Pekat

5 x / hari




Kuning

Tidak menentu


Pekat

Tidak menentu

IV.         KEADAAN KESEHATAN SAAT INI
Diagnosa Medis       :    Hemorrhoid
Tindakan operasi      :    Hemorrhoidectomy
Status nutrisi            :    BB 20 Kg
Status cairan             :    infus terpasang dengan cairan RL
Obat – obatan          :    1. Cefotaxime      :  2 x 0,5 gr
                     2. Transamin Inj  : 2 x  ½  amp
                     3. Novalgin          : 2 x  ½ amp
                     4. Laxadin           : 2 x  ½ amp
Aktivitas                  : semua aktivitas pasien dibantu keluarga : BAB, BAK, makan dan minum
Tindakan Keperawatan : menurunkan rasa nyeri dengan menarik nafas panjang
Hasil Laboratorium :
   Hematologi              Hasil              Normal
1.    Hemoglobin        10,2               L: 13,2- 17,3 g/dl
                                                      P: 11,7-15,5 g/dl
2.    Leukosit               8.100            4000-11000
3.    Trombosit            368.000         < 15 menit
4.    CT                        9’                 150.000 - 400.000
5.    BT                        3’                 1-6 menit

V.      PENGKAJIAN FISIK
data klinis             : BB 20 kg
kesadaran             : Composmentis
TTV                      : S : 36,5 ˚C
                                           N : 97 x/menit
a.    kesan umum
     tampak sakit    : sedang
b.    kulit
     warna               : normal
c.    kepala
    bentuk                          : simetris
           rambut              : hitam
d.   mata                 : jernih
    pupil                 : isokor
e.    telinga              : simetris
f.     hidung                         : simetris
g.    mulut
     bibir                 : dalam batas normal
            gigi                  : normal
h.    leher                 : simetris
i.      tenggorokan    : normal
j.      dada                : simetris

paru-paru
inspeksi                : stidor, RR 30 x/menit
                              irama pernapasan : normal
palpasi                  : normal
auskultasi             : teratur
perkusi                 : vokal resonanse : normal

jantung
inspeksi                : normal (ictus cordis)
palpasi                  : ictus cordis normal
auskultasi             : irama teratur

abdomen
bentuk                  : simetris

genitalia dan anus
penis                     : normal
anus                      : prolap recti

3.2  Analisa Data
Data Klien
Etiologi
Masalah Keperawatan
DS : Ibu pasien mengatakan bahwa kliennyeri pada luka operasi

DO : - KU /  Lemah
-          Tampak meringis kesakitan dan menagis
-          TTV : N : 97 x/m
  S: 36,5 C
Hemoroidectomy


 


Terputusnya kontunitas jaringan


 


Menstimulasi reseptor nyeri
(bradikinin & Prostaglandin)


 


Afferent


 


Medula Spinalis


 


Thalamus


 


Korteks Serebri


 


Afferent

Nyeri
Gangguan rasa nyaman (nyeri)
DS : -  ayah pasien mengatakan BAK ditempat tidur dengan botol aqua
-     Makan dan minum :dibantu keluarga
DO: KU /Lemah
N : 97 x/m
S : 36,2 C
Hemorrhoidectomy

Luka Operasi

Nyeri

Intoleransi Aktivitas
Imobilisasi
DS : -Ayah pasien mengatakan tidak mengetahui makanan apa yang harus diberikan
Nyeri


 


Kurang Informasi


 


Kurang Pengetahuan

Kurang informasi mengenai pnanggulangan hemorrhoid
S : - ayah klien mengatakan suhu klien sedikit panas
O : KU : sedang
N  : 96 X /m
S  : 37 C
Kerusaka Integritas Kulit


 


Port D’entry mikroorganisme


 


Media berkembang mikroorganisme


 


Resiko tinggi infeksi
Resiko infeksi

3.3  Prioritas Masalah Keperawatan
Adapun prioritas masalah keperawatan yang diambil adalah :
1. Gangguan rasa nyaman (nyeri)
2. Imobilisasi
3. Kurang Informasi penanggulangan hemorrhoid
4. Resiko tinggi infeksi

3.4  Diagnosa Keperawatan
Adapun diagnosa keperawatannya yakni :
1. Gangguan rasa nyaman (Nyeri) pada luka operasi b.d adanya jahitan pada luka operasi
2. Intoleransi aktivitas b.d nyeri pasca operasi
 3. kurang pengetahuan b.d kurang informasitentang makana tingi serat
4. resiko terjadinya infeksi pada luka b.d pertahanan primer tidak adekuat
3.5  Intervensi Keperawatan

Nama  pasien         :    “S”                                            Diagnosa Medis  :    Hemorrhoid
Jenis Kelamin         :    Laki-laki                                   Hari /Tanggal       :    Selasa / 23-1     
No. Kamar / Bed   :    3/B1                                          Shift                     :    Pagi

No
Dx. Kep
Tujuan
Intervensi Kep
Rasionalisasi
1
Gangguan rasa nyaman (nyeri) pada luka operasi b.d adanya jahitan pada luka operasi
DS :
ibu pasien mengatakan bahwa klien nyeri pada luka operasi
DO :
-    KU/ Lemah
-    Tampak meringis kesakitan & menagis
-    TTV :
RR : 97 x/m
S: 36,5 C

Tujuan terpenuhinya rasa nyaman setelah dilakukan tindakan Kep. Selama 30 m dengan kriteria:
-     KKlien tidak merigis kesakitan lagi
-     KKU / baik
N : Normal
S : 36,5 C
-    SSkala Nyeri : 0
1.    Tentukan skala nyeri


2.    Beri posis tidur yang menyenangkan pasien


3.    Ajarkan teknik untuk mengurangi rasa nyeri seperti :
Menarik nafas panjang dll

4.Obseravasi daerah rektal apakah ada pendarahan


- skala nyeri digunakan untuk mengukur tingkat nyeri seseorang
-Dapat menurunkan tegangan abdomen & meningkatkan rasa kontrol
-Melakuakn kegiatan yang disukai dapat mengalihkan perhatian terhadap rasa nyeri


-Pendarahan pada jaringan inflamasi lokal atau terjadinya infeksi dapat meningkatkan rasa nyeri
2
Intoleransi aktivitas b.d nyeri pasca operasi
DS :
-     ayah klien mengatakan BAK di tempat tidur dengan botol aqua
-     ayah klien mengatakan membantunya dalam makan & minum
DO :
KU: Lemah
-          TTerpasang infus

Tujuan terpenuhinya mobilisasi setelah dilakukan tidakan kep. Selama 1x24 jam. Dengan kriteria :
- dapat BAK & BAB sendiri
- dapat makan & minum sendiri
- KU/Baik
1. Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan

2. Evaluasi respons klien terhadap aktivitas

3. dorong untuk sering mengubah posisi, bantu klien bergerak ditempat secara perlahan
-meminimalkan rasa nyeri pasca operasi


-menetapkan kemampuan/kebutuan pemilihan intervensi

-    pergerakan dapat merangsang otot peristaltik usus sehingga mempercepat prosesdefekasi dan terhindar dari konstipasi


Kurang pengertahuan b.d kurang informasi tentang makanan tinggi serat
DS: -Kakek klien mengatakan selama ini Klien malas untuk memakan sayur
DO:
KU /Lemah
N : 36,2 C

Tujuannya keluarga dan klien mengetahi makanan yang banyak mengandung serat yang baik untuk tubuh setelah dilakukan tindakan kep. Selama 30 m dengan kriteria:
-     mMampu menyebutkan makanna tinggi serat yang baik untuknya
-     KU /baik
-     N : DBN
S: 36,5



1.Diskusikan pentingnhya penatalaksanaaan diet rendah sisa



2.Berikan penjelasan makanan yang dianjurkan untuk klien kepada keluarga engenai kekambuan embali hemorrhoid


3.Diskusikan untuk mencegah mengejan saat defekasi 


-Pengetahuan tentang diet berguna untuk melibatkan pasien dalam merencanakan diet


-Makanan yang tidak  kaya akan serat dapat menyebabkan koonstipasi





-Menghindari pembesaran kembali V. Hemoroidalis


4


Resiko terjadinya infeksi pada luka b.d pertahanan primer tidak adekuat
S :
 - ayah klien mengatakan suhu klien sedikit panas
- klien mengatakan gatal disekitar bekas operasi
O :
KU/ sedang
N  : 96 X /m
S  : 37,6 C
-     TTampak kemerahan




Tujuan tidak terjadinya infeksi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x 24 jam dengan kriteria:
-luka mengering
Tidak terdapat tanda-tada radang
N :DBN
S: 36,5


1.Observasi TTV




2.Lakukan rendam VK pada daerah anus


3.Observasi balutan tiap 4 jam, periksa terhadap pendarahan


1.Respon autonomik meliputi RR, N , TD b.d keluhan penghilang nyeri

2.Rendam VK mencegah terjadinya infeksi pada bekas luka  operasi

3.Deteksi dini terjadinya proses defekasi




3.6 Implementasi Keperawatan

Nama  pasien         :    “S”                                            Diagnosa Medis  :    Hemorrhoid
Jenis Kelamin         :    Laki-laki                                   Hari /Tanggal       :    Selasa / 23-11-2010 No. Kamar / Bed  :                                3/B1                                               Shift                     :    Pagi

Tgl/Jam
Dx. Kep
Implementasi Kep
Respons

23/11/10

9.15

Gangguan rasa nyaman (nyeri) pada luka operasi b.d adanya jahitan pada luka operasi



1.    Menenentukan skala nyeri


2.    memberi posisi tidur yang menyenangkan pasien

3.    Mengjarkan teknik untuk mengurangi rasa nyeri seperti :
Menarik nafas panjang dll

4.    Mengobseravasi daerah rektal apakah ada pendarahan




-     Klien mengatakan nyeri sedikit berkurang
-     KU/ Lemah
N : 97 x /m
S : 36,5 C
Skala nyeri : 6

23/11/10
11.00

Intoleransi aktivitas b.d nyeri pasca operasi



1.      Membantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan

2.      Mengevaluasi respons klien terhadap aktivitas


3.      Mendorong untuk sering mengubah posisi, bantu klien bergerak ditempat secara perlahan

-       Klien masih dibantu keluarga dalam BAB & BAK
-       Klien masih dibantu makan & minum
-       KU/Lemah
N: 97 x/m
S: 36,2 C
24/11/10
11.30
Kurang pengertahuan b.d kurang informasi tentang makanan tinggi serat

1.    Mendiskusikan pentingnya penatalaksanaaan diet rendah sisa


2.    Memberikan penjelasan makanan yang dianjurkan untuk klien kepada keluarga engenai kekambuhan kembali hemorrhoid

3.    Mendiskusikan untuk mencegah mengejan saat defekasi 

-     Keluarga & klien mengerti makanan yang tinggi serat
KU/Lemah
N : 93 x/m
S: 36,2 C
24/11/10
08.00
Resiko terjadinya infeksi pada luka b.d pertahanan primer tidak adekuat

1.  Mengobservasi TTV


2.  Melakukan rendam VK pada daerah anus

3.  Mengobservasi balutan tiap 4 jam, periksa terhadap pendarahan
-     ayah klien mengatakan suhu klien sedikit panas
-     klien mengatakan gatal disekitar bekas operasi
-     KU/ sedang
N  : 96 X /m
S  : 37,6 C
-     Tampak kemerahan


3.7    Catatan Perkembangan


No Dx
Hari/ Tgl
Catatan Perkembangan
1
Selasa
23/11/2010
S  : Klien mengatakan nyeri sedikit berkurang
O  : KU/ Lemah
N : 97 x /m
S : 36,5 C
Skala nyeri : 6
A :  Masalah teratasi sebagian
P  : Intervensi teratasi sebagian
-          Ajarkan teknik untuk mengurangi rasa nyeri

2

Selasa
23/112010

S  : - Keluarga mengatakan membatu klien dalam  BAB & BAK
-     Keluarga mengatakan membantu klien dalam makan & minum
O  : KU/Sedang
 N: 97 x/m
 S: 36 C
A  : Masalah belum teratasi
P  : intervensi diterusan
3
Rabu
24/11/2010
S : Keluarga & klien mengerti makanan yang tinggi serat
O : KUSedang
N : 93 x/m
S: 36,2 C
A: Masalah teratasi
P:-
4
Rabu
24/11/2010
S : -ayah klien mengatakan suhu klien sedikit panas
-klien mengatakan gatal disekitar bekas operasi
-KU/ sedang
O :N  : 96 X /m
    S  : 37,6 C
-Tampak kemerahan disekitar luka operasi
A : Masalah teratasi sebagian
P : Intervensi dilanjutkan


3.8  Evaluasi Keperawatan


Nama  pasien         :    “S”                                       Diagnosa Medis  :    Hemorrhoid
Jenis Kelamin         :    Laki-laki                               Hari /Tanggal       :    Selasa / 23-11-2010 No. Kamar / Bed       :                                3/B1                                          Shift                     :    Pagi


No Dx
Hari/ Tgl
Catatan Perkembangan
1
Selasa
23/11/2010
S  : Klien mengatakan nyeri sedikit berkurang
O  : KU/ Sedang
N : 97 x /m
S : 36,5 C
Skala nyeri : 5
A :  Masalah teratasi sebagian
P  : Intervensi teratasi sebagian
-          Ajarkan teknik untuk mengurangi rasa nyeri

2

Selasa
23/112010

S  : - Keluarga mengatakan membatu klien dalam  BAB & BAK
-          Keluarga mengatakan membantu klien dalam makan & minum
O  : KU/Sedang
 N: 96 x/m
 S: 36 C
A  : Masalah teratasi sebagian
P  : intervensi diterusan
-          Evaluasi respon klien terhadap aktivitas
3
Rabu
24/11/2010
S : Keluarga & klien mengerti makanan yang tinggi serat yang baik untuk klien
O : KU/Sedang
N : 95 x/m
S: 36,2 C
A: Masalah teratasi
P:-
4
Rabu
24/11/2010
S : -  klien mengatakan tidak lagi gatal
O : -KU/ sedang
N  : 96 X /m
    S  : 37,6 C
-Tampak kemerahan disekitar luka operasi
A : Masalah teratasi sebagian
P : Intervensi dilanjutkan
-          Lakukan rendam VK disekitar bekas luka operasi setiap 2 x / hai selama 10-15 menit












BAB IV
PENUTUP

4.1    Kesimpulan

Hemorroid adalah varises vena eksternal dan atau internal dari kanal anus yang disebabkan oleh adanya tekanan pada vena anorektal. Hemorroid adalah pelebaran (dilatasi) vena pada anus maupun rektal. Hemoroid atau “wasir” merupakan vena varikosa pada kanalis dan dibagi menjadi 2 jenis yaitu, hemorroid interna dan eksterna. Walaupun keadaan ini tidak mengancam jiwa, namun dapat menimbulkan perasaan yang tidak nyaman. Hemoroid atau wasir memang menjadi momok bagi sebagian orang yang menderitanya.
                       

4.2    Saran
Hemorrhoid dapat terjadi disemua umur baik itu laki-laki maupun perempuan maka jagalah aktivitas dan menu makan yang sehat 
















DAFTAR PUSTAKA

http://ackogtg.wordpress.com  diakses pada tanggal 22 november 2010
http://bidukeperawatan.blogspot.com diakses pada tanggal 22 November 2010
http://komitekeperawatanrsia.wordpress.com diakses pada tanggal 22 November 2010
http://musculoskeletalbedah.blogspot.com diakses pada tanggal 22 November 2010
















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar