iklan

Senin, 02 Januari 2012

askep ibu hamil dengan hipertensi

A. KONSEP DASAR
1. Pengertian
Penyakit Hipertensi dalam kehamilan merupakan kelainan vaskuler yang terjadi sebelum kehamilan atau timbul dalam kehamilan atau pada permulaan nifas.
(Obsteri Patologi, Univ. Padjajaran Bandung, 1984)
Hipertensi adalah kelainan yang tidak diketahui etiologinya yang terjadi dalam kehamilan, dimanifestasikan dengan hipertensi, (tekanan sistolik 30 mmHg dan atau tekanan diastolik 15 mmHg di atas nilai dasar) edema dan proteinura (preeklamasia) yang dapat berlanjut pada kejang/koma (eklamsia).
(Rencana Perawatan Material Bayi, 2001)
2. Etiologi
Penyebab hipertensi dalam kehamilan adalah :
1. Hipertensi esensial
Pada wanita hamil dengan hipertensi esensial biasanya hanya menunjukkan gejala hipertensi tanda gejala-gejala lain. Terbanyak orang penderita hipertensi esensial yang jinak dengan tensi sekitar 140/90 – 160/100 mmHg. Jarang berubah menjadi hipertensi yang ganas dalam waktu singkat mencapai 200 mmHg atau lebih.
Faktor yang mempengaruhi :
- Faktor herediter
- Emosi
- Lingkungan
2. Penyakit Ginjal
Penyakit ginjal dan gejala hipertensi dan dapat dijumpai pada wanita hamil adalah :
- Glomerulonefritis akut dan kronik
- Plelenofritus akut dan kronik
(Sinopsis Obstruksi, 1989)
3. Klasifikasi
Klasifikasi menurut American Committee and Maternal Welfare :
1. Hypertensi yang hanya terjadi dalam kehamilan dan khas untuk kehamilan ialah preeklamasi dan ekslamsi. Diagnosa dibuat atas dasar hipertensi dengan proteinuria atau oedem atau kedua-duanya pada wanita hamil setelah minggu ke-20
2. Hipertensi yang kronik (apapun sebenarnya)
Diagnosa dibuat atas adanya hipertensi sebelum kehamilan atau pertemuan hipertensi sebelum minggu ke-20 dari kehamilan dan hipertensi ini tetap setelah kehamilan berakhir.
3. Preeklamasi dan esklamsia yang terjadi atas dasar hipertensi kronis pasien dengan hipertensi yang kronis, seseorang memperberat penyakitnya dalam kehamilan denmgan gejala-gejala hipertensi naik, proteinura, oedem, dan kelainan retina.
4. Transielit hypertention
Diagnosa dibuat kalau timbul hipertensi dalam kehamilan atau dalam 24 jam pertama dari nifas, pada wanita terjadi normotensip dan akan hilang dalam 10 hari post partum.
(Obstetri Patologi, 1984)
PREEKLAMSIA DAN EKLAMSIA
A. Preeklamsia
Preeklamsia merupakan suatu kondisi spesifik kehamilan, Penyakit ini timbul sesudah minggu ke-20 dan paling sering terjadi pada primigravida muda dan pada wanita yang sebelumnya tekanan darahnya normal. Preeklamsia merupakan suatu penyakit vasospatik, yang melibatkan banyak system dan ditandai oleh hemokonsentrasi, hipertensi dan proteinuria, akan tetapi temuan yang paling penting ialah hipertensi di mana 20 % pasien tidak mengalami proteinuria yang berarti sebelum serangan kejang pertama.
(willis, blanco. 1990)
1. Etiologi
Sebab preeklamsi sebelum diketahui kondisinya hanya terjadi pada kehamilan manusia. Ada beberapa resiko tertentu yang berkaitan dengan preeklamsi : primigravida, grand multi gravida, janin besar, kehamilan ganda, morbit obesitas.
(keperawatan maternitas, bobak, lowdermilk, Jensen, 2004, 631)
2. Tanda dan gejala
1. Hipertensi
TD diambil 140 mmHg sistolik dan 90 mmHg diastolik tapi juga kenaikan systolik 30 mmHg atau di atas 15 mmHg. TD mencapai 180 mmHg sistolik dan 110 mmHg diastolik dan jarang mencapai 200 mmHg.
2. Oedema
Timbulnya gejala oedema didahului oleh bertambahnya berat badan yang berlebihan. Penambahan berat badan ½ kg pada 350 yang hamil anggap normal. Tapi kalau mencapai 1 kg seminggu atau 3 kg dalam sebulan preeklamsi harus dicurigai.
3. Proteinuria
Sering diketemukan pada preeklamasi, timbul lebih lambat dari hipertensi dan tambah berat.
4. Gejala subjektif yaitu:
• Sakit kepala yang keras karena vasospasmus atau oedema otak.
• Sakit di hulu hati karena regangan selaput hati oleh haemoragia
• Gangguan penglihatan
- Penglihatan menjadi kabur kadang-kadangf buta.
4. Patofisiologi
Patofisiologi preeklamsi – eklamsi setidaknya berkaitan dengan perubahan fisiologis kehamilan, yaitu meliputi peningkatan volume darah, plasma darah, vasodilatasi, penurunan resistensi vaskularisistemik, peningkatan curang jantung dan penurunan tekanan osmotik kolid.
Preeklamasi volume plasma yang beredar menurun, sehingga terjadi hemokonsentrasi dan peningkatan hemotroktrit maternal perubahan-perubahan ini membuat perpusi organ maternal menurun, termasuk perfusi ke janin – uteroplasenta.
Vasospasme siklik lebih lanjut menurunkan perpusi organ dengan menghancurkan sel-sel darah merah, sehingga kapasitas oksigen menurun. Selain kerusakan endotelial, vasospasma arterial turut menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler, keadaan ini meningkatkan edema yang lebih lanjut, menurunkan volume intravaskuler, mempredisposisi pasien yang mengalami preeklamsi mudah menderita edema paru.
(consensus resport, 1990)
B. Eklamsia
1. Etiologi
Sebuah eklamsi belum diketahui dengan pasti menurut saat terjadinya eklamsi, tetapi eklamsi sering terjadi dengan gejala atau tandanya yaitu kejang dan koma pada wanita hamil dan wanita dalam masa nifas yang disertai dengan hypertensi, oedema dan proteinuria.
Menurut saat terjadinya eklamsi mengenal istilah yaitu :
a. Eklamsia antepartum terjadi sebelum persalinan
b. Eklamsia intra partum terjadi eklamsi sewaktu persalinan
c. Eklamsia post partum eklamsia setelah persalinan
2. Tanda dan gejala
Eklamsi selalu didahului oleh gejala-gejala preeklamsia gejalanya seperti :
• Sakit kepala yang khas
• Penglihatan kabur
• Nyeri ulu hati
• Kegelisahan dan hipertensi
Serangan yang dapat dibagi dalam 4 tingkat :
1. Tingkat invasi (permulaan)
Mata terpaku, kepala dipanglingkan kesatu pihak dan kejang. Kejang halus terlihat pada muka, tingkat ini berlangsung beberapa detik.
2. Tingkat kontraksi (tingkat kejang tonis)
Seluruh badan menjadi kaku, kadang-kadang terjadi episthotonus lamanya 15-20 detik
3. Tingkat konusi (tingkat kejang tonis)
Terjadilah kejang yang timbul hilang, rahang membuka dan menutup begitu pula mata, otot-otot mata dan otot badan berkontraksi dan berelatsasi berulang, kejang ini sangat kuat hingga pasien dapat terdampar dari tempat tidur atau lidahnya tergigit, ludah yang berbuih bercampur darah keluar dari mulutnya, mata merah, muka biru, kejang berangsur berkurang dan akhirnya berhenti, lamanya ± 1 menit.
4. Tingkat koma
Setelah kejang kronis pasien jatuh dalam koma, lamanya koma ini dari beberapa menit sampai berjam-jam, kalau pasien sadar kembali maka ia tidak ingat sama sekli apa yang telah teradi (amnesi retrograde).
(Obstetri Patologi, 1984)
3. Patofisologi
Patofisiologi preeklamsi – eklamsi setidaknya berkaitan dengan perubahan fisiologis kehamilan, yaitu meliputi peningkatan volume darah, plasma darah, vasodilatasi, penurunan resistensi vaskularisistemik, peningkatan curang jantung dan penurunan tekanan osmotik kolid.
Preeklamasi volume plasma yang beredar menurun, sehingga terjadi hemokonsentrasi dan peningkatan hemotroktrit maternal perubahan-perubahan ini membuat perpusi organ maternal menurun, termasuk perfusi ke janin – uteroplasenta.
Vasospasme siklik lebih lanjut menurunkan perpusi organ dengan menghancurkan sel-sel darah merah, sehingga kapasitas oksigen menurun. Selain kerusakan endotelial, vasospasma arterial turut menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler, keadaan ini meningkatkan edema yang lebih lanjut, menurunkan volume intravaskuler, mempredisposisi pasien yang mengalami preeklamsi mudah menderita edema paru.
Tekanan Darah – Vasospasme
Perpusi Plasenta Menurun
Ekativasi Sel Endofolium
Vasokontriksi Kaskade Redistribusi
Aktivasi
Koagulasi
Penurunan Organ Perfusi
( Keperawatan Maternitas, 2004 )
4. Penatalaksanaan
a. Preeklamsi
Dasar pengobatannya adalah :
• Istirahat
Istirahat berbaring memperbaiki kelancaran sirkulasi retroplasenta
• Diit
Diit yang pantang garam, tinggi protein, vitamin, mengurangi lemak
• Sedatip
Misalnya : Barbiturat, vailum, klorpomazim
• Induksi persalinan
Upayakan persalinan mulai berangsur sebelum atau sesudah kehamilan cukup bulan dengan jalan meangsang stimulasi timbulnya HIS.
Mis : Dengan oxitasim, prostaglandin, dan memecahkan ke tuban.
Pengobatan jalan adalah :
Pengobatan ini hanya mempunyai tempat kalau preeklamsi ringan sekali misalnya tensi kurang dari 140/90 mmHg sedangkan oedema dan proteinuria tidak ada/ringan.
Mengakhiri kehamilan :
Pengobatan yang terbaik untuk preeklamsi adalah mengakhiri kehamilan karena :
1. Mengingat bahaya solusio plasenta
2. Mencegah timbulnya eklamsi
3. Preeklamsi dengan sendirinya akan berangsur membaik, setelah persalinan
4. Mengingat kemungkinan kematian anak dalam rahim
b. Eklamsi
Profilaks : Dengan pencegahan, diagnosa dini terapi yang tepat dan intensif dari preeklamsi.
Maka pengaturan diit dan berat badan, selanjutnya pengukuran tensi, pemeriksaan urine dan tambahnya berat badan merupakan pekerjaan yang sangat penting diusul dengan pengobatan dan kalau perlu pengakhiran kehamilan. Semua tindakan dia atas bermaksud mencegah eklamsi.
(Obstetri Patologi, 1984)
B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Sirkulasi
- Peningkatan tekanan darah menetap melebihi nilai setelah 20 minggu kehamilan
- Riwayat hipertensi kronik
- Nadi mungkin menurun
- Dapat mengalami memar spontan, perdarahan lama atau epistakis
Eliminasi
- Fungsi ginjal menurun (kurang dari 400 ml/24 jam) atau tidak ada
Makanan/cairan
- Mual/muntah
- Malnutrisi (kelebihan/kurang berat badan 20% atau lebih besar)
Masukan protein/kalori kurang
- Edema mungkin ada dari ringan sampai berat/umumnya dapat meliptui wajah, ekstrenitas dan sistem organ
- DM
Neorosensori
- Pusing-sakit kepala frontal
- Diplopia (pengliohatan kabur)
- Hiperrefleksia
- Kacau mental, tonik, kemudian fase tonic kronik, diikuti dengan periode kehilangan kesadaran.
- Pemeriksaan fundus kopi dapat menunjukkan edema/spasme vaskuler
Nyeri/ketidaknyamanan
- Nyeri epigastrik (region kuadran atas kanan)
Pernapasan
- Pernapasan kurang dari 14/menit
- Krekels mungkin ada
Seksualitas
- Gerakan bayi mungkin berkurang
- Tanda-tanda abrupsi plasenta mungkin ada
2. Diagnosa Keperawatan
a. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan protein plasma, penurunan tekanan osmotik koloid plasma menyertai perpindahan cairan dari kompartemen vaskuler.
b. Penurunan curang jantung berhubungan dengan hipovolemia/penurunan aliran balik vena, peningkatan tekanan vaskuler sistemik.
c. Cedera resiko tinggi terhadap ibu berhubungan dengan edema/hipoksia jaringan kejang tonic-klonic, fropil darah abnormal dan faktor-faktor pembekuan.
3. Perencanaan
DX. I
Tujuan : Agar volume cairan dapat terpenuhi
Kriteria Hasil : Mengungkapkan pemahaman tentang kebutuhan akan pemantauan yang ketat dan BB, TD, protein urine dan edema.
Intervensi
Rasional
1. Pantau masukan dan haluaran urine perhatikan warna urine dan ukur berat jenis sesuai indikasi
2. Kaji perubahan pada kadar HT/HB
3. Kaji bunyi paru/frekuensi usaha pernapasan
1. Haluaran urine adalah indikator sensitive dari sirkulasi volume darah oliguria dan BJ 1,040 menandakan hipolemi bermasalah pada ginjal
2. Mengidentifikasi derajat hemokontriksi yang disebabkan oleh perpindahan cairan
3. Mengidentifikasi adanya edema paru yang membutuhkan tindakan segera
DX. II
Tujuan : Diharapkan curah jantung kembali
Kriteria Hasil : Mengubah tingkat aktivitas sesuai kondisi
Intervensi
Rasional
1. Pantau TD dan nadi
2. Lakukan tirah pada klien dengan posisi miring kiri
3. Kolaborasi
Pantau TD dan efek samping obat antihipertensi, berikan propanol dengan tepat
1. Hipertensi karena terjadi peningkatan kepekaan pada angiotensin II yang menaiklan TD
2. Meningkatkan aliran baik vena, curah jantung, dan perfusi ginjal, placenta
3. Efek-efek samping meliputi takikardia, sakit kepala, mual, muntah dan palpitasi; dapat diatasi dengan proponal
DX. III
Tujuan : Agar tidak mengalami edema dan kejang.
Kriteria Hasil : Berpartisipasi dalam tindakan atau modifikasi lingkungan dengan untuk melindungi diri dan menaikkan keamanan.
Intervensi
Rasional
1. Kaji adanya masalah SSP (misa, sakit kepala, peka rangsangan, gangguan penglihatan atau perubahan pada pemeriksaan funduskopi
2. Lakukan tindakan untuk menurunkan kemungkinan kejang. Misal: lakukan lingkungan tenang dan lampu tentram, batasi pengunjung dan atur perawatan dengan tingkatan istirahat
3. Kolaborasi
Rawat di rumah sakit bila ada masalah SSP
1. Edema serebral dan vasokontriksi dapat dievaluasi dari masa perubahan gejala, perilaku/retina
2. Menurunkan faktor-faktor lingkungan yang dapat kepekaan srebrum dan menyebabkan kejang
3. Terapi yang segera dilakukan membantu dan menjamin keamanan dan menjamin keamanan dan membatasi komplikasi
DAFTAR PUSTAKA
Arief Mansjoer, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Fakultas Kedokteran UI.
Bobak, Lowdemik, Zensen, Keperawatan Matematis, Edisi 4, EGC, Jakarta, 2004.
Marilly E. Doengoes, Rencana Perawatan Bayi, Edisi 2, EGC, Jakarta, 2001.
Obtetri Patologi Uni. Padjajaran Bandung, 1994.
Prof. Dr. Rustami Mucthar, MPH, Obtetri Patologi, 1984, EGC Jakarta.
Sarwono Prawirohadjoe, Ilmu Kebidanan, 1992, Yayasan Bina Pustaka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar